:: ciroyom bermartabat ::

August 27, 2009 at 2:10 am | In arsip perjalanan debu | Leave a Comment

[tulisan ini digubah dari puisi Soe Hok Gie.. digubah sebisanya]

Ada orang yang menghabiskan waktunya dengan berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya dengan berjudi di miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku disamping kalian, sahabatku
Bercerita tentang adik-adik ciroyom kita yang lucu
Dan bunga harapan yang terus tumbuh didasar hati.

Ada serdadu amerika yang mati karena bom di irak
Ada bayi-bayi yang mati kelaparan di afrika
Tapi aku ingin mati dalam ketiadaanku disamping kalian sahabatku,
Setelah aku lelah berpetualang,
Dan tak kunjung menemukan rumah senyaman peluk dan senyuman kalian.

Ayo sini sahabatku, ayo sini tunas muda ciroyomku
Mari tegakkan kepala
Dan kita bangun harapan
Tentang masa depan yang tak satu orang pun tahu.

Postscript: kepada semua relawan, berbahagialah dalam ketidaksempurnaan kalian, karena bagaimanapun juga, tentu lebih baik mencoba menyalakan lilin, daripada terus menerus mengutuk kegelapan.

:: ramadhan telah datang ::

August 24, 2009 at 3:52 am | In Uncategorized | 2 Comments

Mereka berkemas, aku bingung

Mereka bergegas, aku akhirnya ikut pura-pura berkemas

Mereka menyambut kedatangannya duluan, aku cemas

Oi..sisakan sedikit tuhan untukku, sebagai obat rindu setahun.

selamat datang ramadhan

August 20, 2009 at 3:01 am | In Uncategorized | 5 Comments

Dia lelaki paruh baya, dulu kulitnya tidak selegam itu, kulitnya berubah menjadi jauh lebih gelap setelah dia memutuskan untuk menjadi kuli bangunan, menjadi akrab dengan sengatan matahari terik demi membangun rumah untuk orang lain, demi gaji yang mungkin tidak seberapa, demi harapan bisa membangun rumah sendiri untuk keluarganya suatu hari kelak. Masih bisa aku ingat dengan jelas moment ketika dia menghardik dan hampir saja memukul pedagang sapi dipasar ternak dikotaku, ketika dia mendengar orang tua laki-lakinya dibilang pelit oleh si penjual, padahal orang tuanya tengah dalam proses tawar menawar disebuah pasar; hal yang sangat wajar.

Aku jadi ingat rumahnya, ah.. aku tidak bisa menuliskan nya, karena aku tidak mampu menggambarkan betapa “terlalu sederhananya” rumah itu untuk satu keluarga besar, tiga orang anak dengan dua anak perempuan yang sudah beranjak dewasa, satu orang mertua, dia dan istrinya. Aku hampir saja menangis melihat handuk yang dipakai oleh anak perempuannya yang sudah bolong hampir sebesar kepala dan sudah buduk warnanya. Untung aku tidak menangis disana, aku hanya menyimpan memori itu baik-baik, dan pada diriku sendiri aku berjanji aku akan kembali lagi kesini, dengan kondisi yang lebih baik. Dalam kesederhanaan tadi mereka masih menawarkan aku makan siang, menyuguhkan semua makanan ringan yang mereka punya, sembari berkelakar tentang ketidakmampuan mereka untuk menyuguhiku sesuatu yang lebih baik. Aku tersenyum waktu itu, aku katakan ini sudah jauh lebih daripada cukup, aku tidak ingin lebih. Bahkan ketika pulangpun, mereka membungkuskan beberapa makanan kecil untukku, kali ini aku tidak mau lagi menolaknya, aku terima dengan senang hati, memasukkannya kedalam tasku, dan pamit pergi.

Lalu semalam aku mendengar cerita lagi tentangnya, semua memori tadi muncul kembali. Sial! Aku terlalu nyaman disini, sial!! Aku lupa janjiku pada diriku sendiri terkait mereka, sial!! Aku sudah terlalu lama tidak pulang. Anak perempuan tertua nya sudah lulus SMA, dan hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, aku juga memaksakan hal ini ketika pertemuan terakhirku dulu. Aku bahkan pernah mengatakan, “ke bandung saja dulu, aku yang akan mengurus nya sesampai disana..”. dan sekarang dia sudah diterima disebuah politeknik pertanian milik UNAND yang ada dipinggiran kota, hanya saja dia tidak punya uang untuk mendaftarkan ulang anaknya tadi. Dia meminta bantuan kepada saudara-saudaranya, dan ternyata uang yang awalnya diperuntukkan untuknya menjadi tidak seberapa karena adiknya memotong uang itu seenaknya. Dia tidak marah, dia diam saja, dan ikhlas menerima duit yang ada, dan sangat tidak cukup untuk biaya pendaftaran ulang tadi. Dan akhirnya sianak disuruh bekerja saja.

Aku marah! Aku membantah ketika ibu mengatakan bahwa dia tidak tegas karena tidak berani “menghardik” si adiknya tadi. Aku katakan pada ibu, seandainya aku ada pada posisi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama, lebih baik bagiku berdiri pincang dengan kesederhanaanku sendiri dibandingkan berdiri dibawah bayang-bayang orang lain atau berdiri diatas pundak orang lain, aku tidak akan pernah meributkan masalah uang kepada adik-adikku apalagi terkait dengan harta warisan, lebih baik aku miskin dalam kesempurnaanku daripada bertengkar dengan saudaraku sendiri hanya karena uang. Lebih baik aku menghadapi nasibku sendiri, lebih baik kulitku hitam legam hingga tidak enak lagi untuk dilihat, daripada mengemis takdir kepada siapapun. Tugas saudara lah untuk membantu saudara yang lain, bukan malah menjadikan kondisi semakin buruk.

Aku marah! Benar-benar marah! Aku memahami posisinya sebagai kakak tertua dikeluarga berikut dengan semua harapan yang dulu pernah kakek ceritakan padaku yang tak bisa dia penuhi, aku seperti bercermin dengan jalan hidupnya. Aku tahu aku justru banyak belajar darinya, aku ingat dia, pamanku.

sebatang lisong

August 7, 2009 at 1:51 am | In Uncategorized | Leave a Comment

itu pagi aku berangkat kantor, baca koran sebentar

itu pagi aku baca kabar tentang burung merak yang tugasnya sudah kelar

itu aku ingat puisi tentang pemuda dan seonggok jagung yang dulu aku bawa kemana-mana

menjadi bahan bakar ketika putus asa lebih sering mampir saat idealisme masih malu-malu kucing

itu orang yang kemudian aku angkat menjadi guru secara sepihak

itu orang yang mengajarkan tentang indonesia, tentang hidup dan kehidupan

itu orang bernama Rendra; yang pagi ini dipanggil oleh-Nya

aku turut berduka, selamat jalan guru, selamat jalan pemikiran..

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.