‘Kau boleh menempati kursi yang mana saja…’, kelas dongeng saban sabtu sore itu aku mulai. Belum banyak yang hadir disana, tetapi dia selalu ada, sejak pertama kali kelas ini dibuka. Karena itulah dia mendapatkan semacam privilage kecil, dia boleh menduduki bangku yang mana saja, sedangkan para peserta lain mesti duduk di tempat yang sudah ditentukan.
‘Sore ini kita kembali bertukar cerita. Saya akan memulainya, seperti biasa, setelah itu kalian bercerita apapun yang kalian inginkan…’
Atap pasar itu hening. Semua kursi sudah hampir terisi penuh.
Apakah kalian mengetahui tentang Hari Penampakan Tuhan?
Hari itu kemudian dikenal dengan istilah ‘Horo’. Beberapa abad lalu, dalam sebuah sore yang sepi, di pinggir sebuah sungai berair jernih yang bernama Tundzha yang selalu beku pada musim dingin, seorang laki-laki berjalan sendirian. Pakaiannya begitu sederhana, terlalu sederhana. Itu menjadikan dirinya aman dari para penyamun dan pencuri iseng. Tak ada yang bisa dicuri dari laki-laki seperti itu. Sebuah Rosario kecil senantiasa menggantung di pergelangan tangan kirinya. Dia seorang pendeta ortodoks.
Itu adalah hari ke 39 perjalanannya, dimulai ketika dia menanggalkan semua jubah duniawinya. Dia membakar apapun yang menurutnya berharga dan berpeluang menjadikannya lupa diri; disana ada beberapa lembar uang, sebuah surat berharga, foto-foto keluarga, beberapa barang hadiah, dan piagam penghargaan dari gereja. Hari itu adalah hari dimana salju pertama kali turun di musim dingin tahun itu. Perjalanan selama 39 hari ini lebih pantas dianggap sebagai sebuah perjalanan bertahan hidup daripada perjalanan mencari hidup. Beban bukan saja pada jalanan yang tertutup salju tebal, tetapi juga dengan hujan salju yang menumpuk di pundak. Belum lagi bila dihitung dengan gelisah yang terus dibawa di dalam hati.
Diam adalah prasyarat sempurna untuk mati. Apalagi di tempat seperti ini.
Tapi dia merasa harus berhenti di tempat itu. Ada firasat baik yang memintanya untuk diam sejenak. Dan dia menurutinya. Angin datang dalam irama yang bergemuruh, bisa saja merontokkan nyali para petualang yang setengah hati-sikap yang setengah-setengah seringkali lebih membahayakan. Dia tak bergeming. Di samping sungai itu dia menemukan sebongkah batu seukuran gajah berukuran dewasa, menyembul hitam dari lingkungan sekitarnya yang putih. Dia kemudian duduk diam diatasnya. Di sekitar, angin dan alur sungai saling berlomba mencuri perhatiannya…
Kelas itu senyap, semua mata tertuju padaku. Aku melihat mereka dalam tatapan yang menerawang, aku sebenarnya tidak sedang melihat mereka, pikiranku bertualang jauh ke hari dimana cerita itu dikisahkan untuk pertama kalinya.
Pendeta itu tidak pernah menyangka apa yang akan terjadi berikutnya. Ketika dia memejamkan mata, mengasah rasanya, merekam semua yang ditangkap oleh indranya, ada sesuatu yang perlahan hadir. Sekalipun tak pernah dia menyangka bahwa kisah Musa akan terulang sekali lagi di dunia ini, ketika Tuhan dengan ‘rendah hati’ turun ke bumi. Tuhan itu hangat. Dan kehangatan itulah yang perlahan muncul. Dia datang dari ketinggian yang absolut kemudian menyesap ke dalam hati yang paling dalam. Tubuhnya bergetar hebat, pepohonan riuh, sungai berhenti mengalir, dan saat dia membuka mata, semua menunduk dalam upayanya masing-masing. Dia menjadi takut, secepatnya dia kembali menutup matanya.
Kelas ikut menjadi riuh. ‘Darimana dia tahu bahwa yang datang adalah Tuhan?’, ‘Apa iya Tuhan itu hangat?’, ‘Bagaimana bentuk Tuhan?’. Mereka bertanya tanpa diminta, dan melontarkannya tanpa izin. Aku mendengarkan semuanya dengan baik. Tak satupun yang aku jawab detik itu, aku melanjutkan ceritaku.
Pada hati yang terjaga, kita akan dengan nyata bisa membedakan mana nafsu dan mana cinta, mana hasrat dan mana yang mimpi, mana teman dan mana musuh. Dan apakah terlalu susah untuk membedakan mana Tuhan dan mana Setan? Semua tidak memerlukan takaran yang harus dibakukan, satu-satunya alat penilai yang bisa dipergunakan adalah hatimu. Kamu, kita, adalah serpihan cahaya Tuhan. Dan ketika dia kembali bertemu dengan sang Sumber, dia tak perlu sebuah proses perkenalan lagi, karena mereka tak pernah saling meninggalkan, tak pernah saling melupakan. Yang kemudian hadir adalah sebuah reuni kecil-kecilan serupa sepasang kekasih yang kembali berpelukan setelah terpisah begitu lama. Apakah kamu kesulitan membedakan apakah itu kekasihmu atau kekasihmu yang palsu?
Semua diam.
Pendeta itu merasakan tarikan yang luar biasa. Dia melihat terang tanpa harus membuka matanya, jauh lebih silau daripada kondisi dimana kamu menantang matahari dengan mata tertutup. Dia tahu Dia ada di sana. Tapi bukankah Tuhan tak perlu hadir di sini? Dia merasa bersalah, dia yang mensyaratkan iman lewat sebuah perjumpaan akhirnya mengaku salah. Dia menunduk. Dalam. Dia menangis.
‘Tuhan, jangan datang di tempat ini… Tuhan, jangan datang hari ini…’
Ucapan itu diulang-ulangnya hingga serupa mantra yang dirapal berulang-ulang sehingga kehilangan aturan bahasa bakunya. Kalimat yang diucapkan berulang dan dalam irama cepat beraturan akan kehilangan nada aslinya. Yang hadir adalah kepastian dan sebuah kesepahaman. Dia menuju vortex. Dia menuju puncak segitiga. Dia menuju kosong. Dia menuju tak ada. Dia menuju Tuhan.
Ceritanya selesai! Aku membuka mataku, menatap mereka dengan lega. Di suatu sore, akhirnya cerita ini aku sampaikan.
‘Apakah ada yang ingin kalian tanyakan?’
‘Apakah ada orang lain di tempat itu? Lalu bagaimana kemudian orang tahu bahwa pendeta itu bertemu Tuhan, dan memperingatinya sebagai hari penampakan Tuhan? Bagaimana kelanjutan hidup si pendeta?’
‘Tidak ada orang di tempat itu. Hanya pendeta itu saja. Tentu saja cerita ini tidak masuk akal bagi kebanyakan manusia, tapi siapa yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada yang benar-benar mengetahui sebuah pohon yang tumbang di tengah malam di tengah hutan? Peristiwa ini mulai diperingati oleh mereka yang mempercayai selembar manuskrip tua berwujud kulit kayu. Di atasnya tertulis sebuah pesan singkat; ‘Tuhan, jangan datang di tempat ini… Tuhan, jangan datang hari ini…’ Manuskrip itu masih dapat kau temui bila kau mengunjungi sebuah kapel tua yang didirikan tidak jauh dari sungai itu. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana nasib si pendeta, apalagi sejak pengisi gereja yang ditinggalkan oleh si pendeta sibuk mencarinya. Barangkali ada sebuah jejak yang tertinggal, atau sebongkah tubuh yang mati tertimbun es, atau terbawa sungai menuju muara yang jauh. Pencarian dilakukan bertahun-tahun, dan tak menghasilkan apapun. Manuskrip itu menjadi bukti terakhir yang ditinggalkan si pendeta; orang suci yang pernah berdosa, orang berdosa yang tak berhenti memperbaiki diri.
‘Kesempatanku selesai. Sekarang giliran kalian. Apa yang ingin kalian kisahkan?’
like this ;)