/1/
Gelisah-gelisah yang hadir dan hilang bersama pertemuan dan sebuah ritual datang-mampir-pergi, kenangan yang menggelayuti melebihi bayangan diri di musim panas, matahari yang terik dan angin yang kering, kemanakah bahagia akan mengarah?
Kepada Timur aku menujumu,
sesekali kepalaku mendongak ke Barat,
di Utara, cahaya kutub memanggil dengan ceria,
dan burung bermigrasi dari mana menuju ke Selatan.
Lalu dimana ketenangan akan berlabuh?
Sore itu aku katakan padamu bahwa ‘tenang’ lebih baik tak hadir di hari ini, seandainya dia ada saat ini, mungkin kau dan aku akan kehilangan harapan baik di masa depan, barangkali kita berdua tak lagi mengenal kata ‘perbaikan’.
PS: tak perlu merubah kiblat, Tuhan adalah segala arah.
/2/
Perjalanan yang dimulai dari debu menuju debu memang tak pantas untuk dipajang di rak buku. Dia tak selayaknya pengetahuan yang mesti dikekalkan, dia juga bukan cuplikan ayat yang berwujud daun, kulit pohon dan batu. Debu adalah debu. Perjalanan adalah dia yang hanya hadir saat ada titik bernama rumah dan ada proses yang bernama pulang. Disana ada ibu atau ibu yang hanya tinggal nama.
Tapi, bukankah Tuhan juga hadir di dalam Debu?
/3/
‘Silahkan ke Timur sedikit saja, disana ada Papuma. Temuilah seorang rahib yang menjagai sebuah kuil dengan warna dominan merah yang juga berada di depan sebuah gua pemujaan. Saat melihat wajahnya, kau akan tahu bahwa dialah yang ingin kau temui.’
Aku tahu perjalanan ini cukup menakutkan. Tapi takut adalah dinding yang harus dilompati demi sesuatu di baliknya; hari yang lebih ceria, diri yang lebih sederhana (atau tidak?). Ada manusia kerdil yang suka mencuri ikan hasil nelayan dan memunculkan suara riuh di malam hari. Siapa mereka tak pernah ada yang tahu pasti. Sekali waktu, dalam subuh yang penuh kabut (teluk ini jarang sekali didatangi kabut), ada beberapa bekas telapak kaki seukuran setengah meja yang seolah-olah muncul dari dalam lautan dan berjalan menuju daratan. Kaki siapa? Lalu kemana dia bersembunyi? Bukankah dengan ukuran kaki sebesar itu, bersembunyi bukanlah hal mudah di zaman ini? Tak pernah yang tahu pasti… dia datang dan barangkali bersembunyi di dalam kabut.
/4/
Ada yang membakar diri di depan simbol negara. Jangan pernah kau tanya untuk apa, sekalipun jangan.
Karena ketika negara bersekongkol dengan dia yang memiliki kekuasaan tanpa hati, dia yang berkoar membersihkan tapi kita tahu mereka hanyalah sekumpulan orang tak tahu diri yang tak punya malu (dan jangan-jangan kemaluan), ada yang mesti dibongkar, tanpa atau dengan harapan.
Tidak ada yang lebih buruk dari gabungan negara, korporat, preman dan aparat!!!*