Titik (1)

Kepada kamu

Pada satu titik di masa depan, aku akan mempercayakan sepenuhnya agendaku kepadamu, manisku. Di titik itu, aku adalah pesakitan, dan kamu adalah dokter yang sabar. Aku yang menjalani hari terlalu banyak jauh dari rumah, adalah aku yang butuh terapi untuk lebih banyak kembali kepada rumah. Disana ada kamu, sebagian besar mimpiku, dan nasib yang aku gantungkan dengan setia pada setiap berandanya. Aku juga sangat membutuhkan ketenangan itu, dan barangkali kamu sudah tahu –karena aku seringkali mengulangnya, bahwa kamu adalah ketenangan yang aku tuju. Harus ada proses panjang menemukan rumah, perjuangan menemukan arti pergi dan kembali, proses tanpa henti menuju laut tempat semua sungai bermuara. Titik ini hanyalah persimpangan, dimana takdirmu bertemu takdirku pada sebuah sore yang rapuh di atap sebuah pasar. Kita telah menjalani malu-malu kucing yang berwarna merah jambu, serangkaian kisah ‘stranger by the day’, dan beberapa kali upaya maju mundur untuk menentukan arah. Toh, akhirnya kita memutuskan untuk berjalan bersama, setelah Dago Pakar, Sukawana dan Jayagiri kita tapaki dengan perlahan –tapi pasti. Aku tahu kamulah si dia.

“Bapak kamu jaga warnet ya?”
“Loh… kok tahu?”
“Karena kau telah berhasil men-download hatiku… :”> “

Awalnya aku percaya bahwa hati dipilih bukan memilih. Tapi kemudian aku sadar, bahwa itu bukanlah kondisi terbaiknya. Dalam diamnya, hati memilih dan dipilih secara bersamaan. Dia bekerja dua arah, seperti mereka yang saling bertukar kabar dengan telepon.

Dan sadarkah kamu bahwa kita dianugrahi kesempatan itu?

Lalu perjalanan berikutnya adalah mencari jalan terbaik, berjuang mati-matian menjaga harmoni, maju selangkah demi selangkah. Gamang? Tentu saja! Ini adalah kali pertama! Oleh karena itu aku dan kamu semakin saling menguatkan. Kita adalah mereka yang ditempa oleh keadaan, bukan mereka yang dilenakan oleh begitu banyak kemudahan. Dalam gugupku, aku menemui kedua orang tuamu. Dalam gugupku, aku membicarakan rencanaku, rencanamu, rencana kita. Aku tahu aku beberapa kali kehilangan kalimat, mantra agar lisan dimudahkan tak selamanya bekerja dalam suasana hati yang bercampur aduk antara antusias, khawatir dan cinta. Tapi tenang saja, tak ada kalimat yang lebih ampuh daripada pembicaraan dari hati ke hati.

Dan kita tersenyum sesudahnya. Jalan masih panjang, tetapi keindahan ada di sepanjang jalan. Hidup tak berasosiasi dengan tujuan. Hidup adalah keindahan yang kau temukan lewat angin yang bertiup pelan ataupun tidak, lewat bunga yang mekar dari tempat paling jarang dilihat, atau senyum dari musuh yang paling kau benci.

Hidup adalah hidup.

Dan garis (hidup) bukankah rangkaian dari titik-titik (moment)?

Selamat malam, gadisku.
Yours

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s