bang kai
November 21, 2009 at 2:40 pm | In Uncategorized | 2 Commentsaku cium tengkuk pacarku,
bau bangkai.
Seingatku, saat aku mencium pipi mantan pacar TPBku,
Sama. Bau bangkai.
Kemaren, aku duduk didepan plaza kuningan. Manusia lewat simpang siur. Baunya semerbak.
Sama. Bau bangkai juga.
Tukang becak lewat. Bau sedikit beda tapi sama.
Bau bangkai plus bau badan.
Tukang ketoprak, tukang bakso, uda warung nasi padang, tak jauh beda.
Bau bangkai plus bau masakan.
Dan tadi pagi,
Aku cium badanku sendiri.
SIAL!! Bau bangkai!
i think its not mine.. :)
ayo matikan TV mu!!!
November 20, 2009 at 2:57 am | In Uncategorized | 3 CommentsPercuma menonton televisi, bagian mana yang pantas untuk ditonton selain spongebob dan naruto? Apakah aku harus menghabiskan waktu untuk menonton sinetron-sinetron sampah itu? Atau aku harus menghabiskan waktu untuk melihat mereka berdebat? Semakin mereka berdebat, semakin terlihat bahwa mereka BUSUK dan BODOH! Lah, bukankah dilarang berdebat dengan orang bodoh, mabuk atau orang gila? Lalu mengapa masih diladeni? Berita-berita juga sama saja, semua mengupas hal yang sama, dan masih tidak mencerdaskan. Hahahaha.. sangat sakit hati dan miris rasanya melihat para anggota dewan yang relatif muda itu tertawa saat mengungkapkan pendapat bahwa dia sepakat dengan demonstrasi yang dibayar meski si demonstran tidak paham apa yang mereka suarakan. hi bung.. punya malu gak sih kau?
Lalu ada juga yang suka berpendapat tanpa pernah paham secara menyeluruh apa yang sebenarnya terjadi, wkwkwkk.. bertingkah seolah-olah si maha tahu masalah, dan kemudian berbangga diri karena dulu tidak mencoblos salah satu pasangan dan sekarang merasa pantas untuk menyalahkan orang pilihan hasil pemilu,bwahahahaha… pemikiran macam apa pula itu? Tidak apalah Tuhan, hancurkan saja lah semua sekalian, potong itu generasi busuk yang bercokol di istana, gedung dewan dan gedung pemerintahan.. Kau benar bahwa tidak akan hancur suatu kaum, kecuali dikarenakan oleh kaum itu sendiri.
Ayo, matikan TV mu!!!
ini keringatku, Garuda!
November 19, 2009 at 2:40 am | In Uncategorized | Leave a CommentPertama dan terakhir kalinya aku mengunjungi tempat keramat itu adalah dua tahun yang lalu, kala itu timnas senior Indonesia dalam fasa hidup mati untuk lolos ke putaran final piala asia dengan melawan korea selatan. Tim setangguh korea selatan hanya mampu menceploskan satu gol kegawang Indonesia, stadion penuh sesak waktu itu, bergemuruh tak henti-henti menambah semangat 11 pemain dilapangan. Lalu datanglah hari ini. Aku baru tahu bahwa timnas akan bertanding di gelora Bung Karno beberapa saat sebelum jam kantor habis. Tepat jam 5, aku berkemas, bergegas balik kekontrakan, memakai baju pemberian sultan dengan lambang garuda didada kirinya, kemudian dilapisi dengan jaket merah putih versi timnas juga dengan lambing garuda didada kirinya, namun ada tambahan namaku disebelah kanannya.
Tak lama, aku sudah menjadi satu dengan arus penduduk Jakarta sepulang bekerja. Berdesak-desakan dihalte busway yang menuju blok M, aku menunggu giliranku datang sembari menyelesaikan bukumu Puthut Ea.
Menonton pertandingan sepakbola tidak afdol rasanya tanpa mengenakan atribut, dua tahun lalu ketika masih menjadi mahasiswa aku membeli sebuah ikat kepala dengan harga seribu rupiah, dan kali ini karena sudah bekerja dan berpenghasilan tetap, aku membeli sebuah syal dengan sablonan bertuliskan “INDONESIA” seharga sepuluh ribu rupiah. Beli tiket pertandingan, dan masuk ke Gate V. sementara stadion sudah bergemuruh, terdengar jelas lagu Indonesia Raya dari dalamnya.
Ternyata itu adalah gate kesukaan para the jackmania, dan tepat persis disebelah kiri gawang markus horizon pada babak pertama. Seandainya kau ikut menonton pertandingan itu lewat televisi, maka tempatku berdiri adalah disebelah lokasi penonton mengibarkan bendera merah putih besar yang dikibarkan dari bawah ke atas oleh penonton. Aku senang, aku memang benar benar ingin merasakan euphoria menonton pertandingan sepakbola yang tak jauh berbeda dengan euphoria saat menonton sebuah konser music, berteriak sepuasnya, bergoyang kesana kemari tanpa peduli karena semua orang juga begitu, sesekali memaki ketika wasit bertingkah tidak menyenangkan, dan alunan yel-yel disepanjang pertandingan. Dan jadilah aku berada ditengah tengah hooligans from Jakarta dan angel of the jack, mengikuti saja alunan lagu mereka, bergoyang ala mereka, dan aku sungguh menikmati itu semua.
Pertandingan sudah berlangsung beberapa menit saat aku masuk, Indonesia menggunakan seragam merah kebanggan yang tampak begitu cerah malam itu. Tepat pada injury time babak pertama, budi menceploskan bola kearah gawang Kuwait dari pojok kanan gawang, 1-0 untuk Indonesia. Stadion bergemuruh, terompet dibunyikan, kembang api dilepaskan ke udara, semua melompat-lompat kegirangan, sungguh luar biasa rasanya, sungguh. Sempat ada keributan kecil dilapangan ketika firman utina dipukul dari belakang oleh pemain Kuwait bernomor punggung 15 (ini hasil laporan mas Andri, karena nomor punggung tidak akan terlihat jelas saat menonton di stadion. :D ). Namun petaka benar benar datang 1 menit saat babak kedua dimulai. Ismet melakukan pelanggaran kedua, kartu merah melayang dan Indonesia bermain degan 10 pemain. Sial! Dan sejak saat itu permainan menjadi sudah tidak seimbang lagi, pertahanan Indonesia terus terusan diserang, dan pada pertengahan babak ke2, Kuwait memasukkan satu gol kegawang markus. Skor 1-1 tidak berubah hingga akhir pertandingan. Indonesia tersingkir karena pada pertandingan sebelumnya kalah 2-1 atas Kuwait dikandang mereka. Namun tidak apa-apa, masih ada ruang untuk berbenah diri. Masih ada aku disini yang berjanji akan mendampingimu bertanding garuda, dengan merah putih dikepalan tanganku dan garuda didadaku, tidak ada yang harus aku khwawatirkan. Ini badanku, ini keringatku, ini semangatku, ambillah semuanya, dan cukup begini saja caraku ber-indonesia. I’m part of the crowd, I’m INDONESIAN!!!
Postscript : entah apa yang kalian pikirkan diistana, diruang dewan, atau dikursi empuk kalian wahai pejabat busuk, entahlah. Indonesia kalian? Aku tak tahu, dan juga aku tak peduli!
ciwidey dalam sekelumit paragraf
November 17, 2009 at 6:12 am | In Uncategorized | 2 CommentsHingga saat terakhir, dia masih menoleh kearah belakang, menuju kami yang sebentar lagi meninggalkannya.
Entah dia belajar perihal hilang, atau kehilangan atau ditinggalkan dari mana, namun yang jelas sore itu dia menangis. Dengan wajah yang sesenggukan dia mencoba tampak kuat, dia tidak mau ditertawakan oleh teman-teman lain sebayanya. Dia deni, salah satu anak didik di rumah belajar ciroyom, dan kala itu kami mengantarnya bersama dengan didin, feri dan robi (yang kemudian mundur) untuk masuk kesebuah pondok pesantren dikawasan ciwidey, bandung selatan. Niatnya cuma satu, membantu mereka merancang sesuatu yang lebih baik bagi masa depan mereka kelak, bagaimanapun lingkungan ciroyom lengkap dengan lem, bau busuk, alcohol, pergaulan tidak jelasnya bukanlah lingkungan yang sehat mereka, meskipun disana adalah surga kenyamanan mereka selama ini.
Aku sejujurnya ingin menangis juga saat itu, ketika melihatnya aku melihat diriku sendiri, apakah aku akan mau tinggal ditempat seperti ini? Dengan lingkungan yang sepenuhnya baru, dengan kegiatan yang juga sepenuhnya baru, tanpa ada satupun yang dikenal kecuali teman-teman lama yang juga baru masuk kesini. Tidak ada lagi tawa riang yang tak kenal waktu dari sahabat-sahabat ciroyom, dunia pasti mendadak berubah, sepi, terasing, sendiri, ditempat orang, cuma boleh pulang sekali dalam setahun. Sejujurnya aku juga tidak akan mau tinggal disana. Tapi, tentu terkadang hidup memaksa kita untuk melalui pilihan yang sulit dan terkadang kasar, tapi tetap tenang adikku, seandainya kalian cuma boleh pulang sekali dalam setahun, kami yang akan sesering mungkin mengunjungi kalian kesana. Belajar sesuatu yang baru dan lain selama disana ya.., kalian tidak boleh selamanya seperti ini, kita tidak boleh selamanya seperti ini. Saat kalian siap, semoga aku juga sudah bisa menyediakan sebuah rumah baru untuk kalian. Amin.
7.3 SR, tasikmalaya
September 2, 2009 at 8:18 am | In Uncategorized | Leave a Commentaku tengah berada didepannya, gedung berguncang, kami diam.
“gempa ya prof?”, tanyaku
“iya.. this is earthquake” jawabnya singkat.
aku tersenyum, wajahnya tenang, dan gedung semakin berguncang.
betapa dekatnya kematian.
entah
September 1, 2009 at 10:04 am | In Uncategorized | 2 CommentsRembulan ¾ penuh, ramadhan sudah genap seminggu.
Kepada Tuhan,
Aku sadar bahwa Kau memberiku jalan hidup yang sungguh lancar, Kau beri aku hal-hal yang tak mudah bagi sebagian manusia lain. Kau anugrahkan aku dengan keluarga yang luar biasa, ibu yang bersemangat, ayah yang bijaksana dan keluarga besar yang hangat. Kau beri aku pendidikan yang lancar, aku mampu bersekolah ditempat yang orang tuaku idam-idamkan (sebagian besarnya adalah sekolah unggulan), bahkan Kau memberiku pekerjaan sebelum itu pak rektor mengucapkan kata perpisahan,
“selamat jalan ananda.. jadilah sarjana yang berguna bagi bangsamu..”
Kemudian Kau memberiku tempat bekerja yang tak kalah menariknya, aku bekerja dibidangku, bekerja dengan para sahabat lamaku, bekerja dengan dan dibawah orang-orang yang tak kalah luar biasanya, mereka yang dengan lantang meneriakkan saran dan demikian lembut menyuarakan kritikan yang menjadikanku semakin bersemangat untuk terus belajar dan berbenah diri.
Namun kapan aku benar-benar bersyukur pada-Mu atas semua itu?
Tuhan, aku mohon maaf bila aku terlalu sering mengabaikan undangan menuju rumah-Mu, namun sejujurnya aku lebih merasakan hadir-Mu dipojokan kios kecil itu. Iya, yang didepannya ada dua tumpuk bukit sampah, iya.. yang bau busuknya sudah susah dikenali asalnya, entah bau ikan busuk, entah bau bangkai, entah bau got, entah bau karbit, entah bau pesing, entah bauku?
Entah kenapa juga denyut nadi-Mu terasa bersamaan dengan tangan-tangan mungil yang aku genggam itu, entah kenapa juga saat mereka aku peluk erat, degup jantung mereka serasa milik-Mu. Aku merasa menemukan agama dari daki mereka yang turut terguyur oleh air mandi yang hanya ada seminggu sekali itu, atau dari luka-luka bernanah yang mulai mengering setelah diberi obat sekadarnya dan kasih sayang sebanyak-banyaknya (jangan-jangan sakit manusia itu sebenarnya hanya butuh diobati dengan kasih sayang). Lewat mereka hadir-Mu sungguh terasa, sumpah!
Hmm.. mungkin lewat mereka saja aku wujudkan bentuk syukurku kepada-Mu, menyadari sebagian milikku dari-Mu tentu adalah milik mereka juga, menyadari bahwa memberi sebenarnya adalah menerima, membuka tangan adalah peluang untuk dipeluk, dan senyuman adalah tiket masuk kehati manusia lainnya, siapapun. Mengagumi besar-Mu, menyadari kerdilku.
Tuhan, aku mohon jangan masukkan aku kedalam golongan yang tidak bersyukur. Janji ya..
:: ramadhan telah datang ::
August 24, 2009 at 3:52 am | In Uncategorized | 2 CommentsMereka berkemas, aku bingung
Mereka bergegas, aku akhirnya ikut pura-pura berkemas
Mereka menyambut kedatangannya duluan, aku cemas
Oi..sisakan sedikit tuhan untukku, sebagai obat rindu setahun.
selamat datang ramadhan
August 20, 2009 at 3:01 am | In Uncategorized | 5 CommentsDia lelaki paruh baya, dulu kulitnya tidak selegam itu, kulitnya berubah menjadi jauh lebih gelap setelah dia memutuskan untuk menjadi kuli bangunan, menjadi akrab dengan sengatan matahari terik demi membangun rumah untuk orang lain, demi gaji yang mungkin tidak seberapa, demi harapan bisa membangun rumah sendiri untuk keluarganya suatu hari kelak. Masih bisa aku ingat dengan jelas moment ketika dia menghardik dan hampir saja memukul pedagang sapi dipasar ternak dikotaku, ketika dia mendengar orang tua laki-lakinya dibilang pelit oleh si penjual, padahal orang tuanya tengah dalam proses tawar menawar disebuah pasar; hal yang sangat wajar.
Aku jadi ingat rumahnya, ah.. aku tidak bisa menuliskan nya, karena aku tidak mampu menggambarkan betapa “terlalu sederhananya” rumah itu untuk satu keluarga besar, tiga orang anak dengan dua anak perempuan yang sudah beranjak dewasa, satu orang mertua, dia dan istrinya. Aku hampir saja menangis melihat handuk yang dipakai oleh anak perempuannya yang sudah bolong hampir sebesar kepala dan sudah buduk warnanya. Untung aku tidak menangis disana, aku hanya menyimpan memori itu baik-baik, dan pada diriku sendiri aku berjanji aku akan kembali lagi kesini, dengan kondisi yang lebih baik. Dalam kesederhanaan tadi mereka masih menawarkan aku makan siang, menyuguhkan semua makanan ringan yang mereka punya, sembari berkelakar tentang ketidakmampuan mereka untuk menyuguhiku sesuatu yang lebih baik. Aku tersenyum waktu itu, aku katakan ini sudah jauh lebih daripada cukup, aku tidak ingin lebih. Bahkan ketika pulangpun, mereka membungkuskan beberapa makanan kecil untukku, kali ini aku tidak mau lagi menolaknya, aku terima dengan senang hati, memasukkannya kedalam tasku, dan pamit pergi.
Lalu semalam aku mendengar cerita lagi tentangnya, semua memori tadi muncul kembali. Sial! Aku terlalu nyaman disini, sial!! Aku lupa janjiku pada diriku sendiri terkait mereka, sial!! Aku sudah terlalu lama tidak pulang. Anak perempuan tertua nya sudah lulus SMA, dan hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, aku juga memaksakan hal ini ketika pertemuan terakhirku dulu. Aku bahkan pernah mengatakan, “ke bandung saja dulu, aku yang akan mengurus nya sesampai disana..”. dan sekarang dia sudah diterima disebuah politeknik pertanian milik UNAND yang ada dipinggiran kota, hanya saja dia tidak punya uang untuk mendaftarkan ulang anaknya tadi. Dia meminta bantuan kepada saudara-saudaranya, dan ternyata uang yang awalnya diperuntukkan untuknya menjadi tidak seberapa karena adiknya memotong uang itu seenaknya. Dia tidak marah, dia diam saja, dan ikhlas menerima duit yang ada, dan sangat tidak cukup untuk biaya pendaftaran ulang tadi. Dan akhirnya sianak disuruh bekerja saja.
Aku marah! Aku membantah ketika ibu mengatakan bahwa dia tidak tegas karena tidak berani “menghardik” si adiknya tadi. Aku katakan pada ibu, seandainya aku ada pada posisi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama, lebih baik bagiku berdiri pincang dengan kesederhanaanku sendiri dibandingkan berdiri dibawah bayang-bayang orang lain atau berdiri diatas pundak orang lain, aku tidak akan pernah meributkan masalah uang kepada adik-adikku apalagi terkait dengan harta warisan, lebih baik aku miskin dalam kesempurnaanku daripada bertengkar dengan saudaraku sendiri hanya karena uang. Lebih baik aku menghadapi nasibku sendiri, lebih baik kulitku hitam legam hingga tidak enak lagi untuk dilihat, daripada mengemis takdir kepada siapapun. Tugas saudara lah untuk membantu saudara yang lain, bukan malah menjadikan kondisi semakin buruk.
Aku marah! Benar-benar marah! Aku memahami posisinya sebagai kakak tertua dikeluarga berikut dengan semua harapan yang dulu pernah kakek ceritakan padaku yang tak bisa dia penuhi, aku seperti bercermin dengan jalan hidupnya. Aku tahu aku justru banyak belajar darinya, aku ingat dia, pamanku.
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

