lagi

September 11, 2009 at 5:20 am | In Uncategorized | 2 Comments

sampai jumpa di ruang kosong..

7.3 SR, tasikmalaya

September 2, 2009 at 8:18 am | In Uncategorized | Leave a Comment

aku tengah berada didepannya, gedung berguncang, kami diam.
“gempa ya prof?”, tanyaku
“iya.. this is earthquake” jawabnya singkat.

aku tersenyum, wajahnya tenang, dan gedung semakin berguncang.
betapa dekatnya kematian.

entah

September 1, 2009 at 10:04 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Rembulan ¾ penuh, ramadhan sudah genap seminggu.

Kepada Tuhan,
Aku sadar bahwa Kau memberiku jalan hidup yang sungguh lancar, Kau beri aku hal-hal yang tak mudah bagi sebagian manusia lain. Kau anugrahkan aku dengan keluarga yang luar biasa, ibu yang bersemangat, ayah yang bijaksana dan keluarga besar yang hangat. Kau beri aku pendidikan yang lancar, aku mampu bersekolah ditempat yang orang tuaku idam-idamkan (sebagian besarnya adalah sekolah unggulan), bahkan Kau memberiku pekerjaan sebelum itu pak rektor mengucapkan kata perpisahan,
“selamat jalan ananda.. jadilah sarjana yang berguna bagi bangsamu..”
Kemudian Kau memberiku tempat bekerja yang tak kalah menariknya, aku bekerja dibidangku, bekerja dengan para sahabat lamaku, bekerja dengan dan dibawah orang-orang yang tak kalah luar biasanya, mereka yang dengan lantang meneriakkan saran dan demikian lembut menyuarakan kritikan yang menjadikanku semakin bersemangat untuk terus belajar dan berbenah diri.

Namun kapan aku benar-benar bersyukur pada-Mu atas semua itu?
Tuhan, aku mohon maaf bila aku terlalu sering mengabaikan undangan menuju rumah-Mu, namun sejujurnya aku lebih merasakan hadir-Mu dipojokan kios kecil itu. Iya, yang didepannya ada dua tumpuk bukit sampah, iya.. yang bau busuknya sudah susah dikenali asalnya, entah bau ikan busuk, entah bau bangkai, entah bau got, entah bau karbit, entah bau pesing, entah bauku?
Entah kenapa juga denyut nadi-Mu terasa bersamaan dengan tangan-tangan mungil yang aku genggam itu, entah kenapa juga saat mereka aku peluk erat, degup jantung mereka serasa milik-Mu. Aku merasa menemukan agama dari daki mereka yang turut terguyur oleh air mandi yang hanya ada seminggu sekali itu, atau dari luka-luka bernanah yang mulai mengering setelah diberi obat sekadarnya dan kasih sayang sebanyak-banyaknya (jangan-jangan sakit manusia itu sebenarnya hanya butuh diobati dengan kasih sayang). Lewat mereka hadir-Mu sungguh terasa, sumpah!

Hmm.. mungkin lewat mereka saja aku wujudkan bentuk syukurku kepada-Mu, menyadari sebagian milikku dari-Mu tentu adalah milik mereka juga, menyadari bahwa memberi sebenarnya adalah menerima, membuka tangan adalah peluang untuk dipeluk, dan senyuman adalah tiket masuk kehati manusia lainnya, siapapun. Mengagumi besar-Mu, menyadari kerdilku.

Tuhan, aku mohon jangan masukkan aku kedalam golongan yang tidak bersyukur. Janji ya..

:: ramadhan telah datang ::

August 24, 2009 at 3:52 am | In Uncategorized | 2 Comments

Mereka berkemas, aku bingung

Mereka bergegas, aku akhirnya ikut pura-pura berkemas

Mereka menyambut kedatangannya duluan, aku cemas

Oi..sisakan sedikit tuhan untukku, sebagai obat rindu setahun.

selamat datang ramadhan

August 20, 2009 at 3:01 am | In Uncategorized | 5 Comments

Dia lelaki paruh baya, dulu kulitnya tidak selegam itu, kulitnya berubah menjadi jauh lebih gelap setelah dia memutuskan untuk menjadi kuli bangunan, menjadi akrab dengan sengatan matahari terik demi membangun rumah untuk orang lain, demi gaji yang mungkin tidak seberapa, demi harapan bisa membangun rumah sendiri untuk keluarganya suatu hari kelak. Masih bisa aku ingat dengan jelas moment ketika dia menghardik dan hampir saja memukul pedagang sapi dipasar ternak dikotaku, ketika dia mendengar orang tua laki-lakinya dibilang pelit oleh si penjual, padahal orang tuanya tengah dalam proses tawar menawar disebuah pasar; hal yang sangat wajar.

Aku jadi ingat rumahnya, ah.. aku tidak bisa menuliskan nya, karena aku tidak mampu menggambarkan betapa “terlalu sederhananya” rumah itu untuk satu keluarga besar, tiga orang anak dengan dua anak perempuan yang sudah beranjak dewasa, satu orang mertua, dia dan istrinya. Aku hampir saja menangis melihat handuk yang dipakai oleh anak perempuannya yang sudah bolong hampir sebesar kepala dan sudah buduk warnanya. Untung aku tidak menangis disana, aku hanya menyimpan memori itu baik-baik, dan pada diriku sendiri aku berjanji aku akan kembali lagi kesini, dengan kondisi yang lebih baik. Dalam kesederhanaan tadi mereka masih menawarkan aku makan siang, menyuguhkan semua makanan ringan yang mereka punya, sembari berkelakar tentang ketidakmampuan mereka untuk menyuguhiku sesuatu yang lebih baik. Aku tersenyum waktu itu, aku katakan ini sudah jauh lebih daripada cukup, aku tidak ingin lebih. Bahkan ketika pulangpun, mereka membungkuskan beberapa makanan kecil untukku, kali ini aku tidak mau lagi menolaknya, aku terima dengan senang hati, memasukkannya kedalam tasku, dan pamit pergi.

Lalu semalam aku mendengar cerita lagi tentangnya, semua memori tadi muncul kembali. Sial! Aku terlalu nyaman disini, sial!! Aku lupa janjiku pada diriku sendiri terkait mereka, sial!! Aku sudah terlalu lama tidak pulang. Anak perempuan tertua nya sudah lulus SMA, dan hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, aku juga memaksakan hal ini ketika pertemuan terakhirku dulu. Aku bahkan pernah mengatakan, “ke bandung saja dulu, aku yang akan mengurus nya sesampai disana..”. dan sekarang dia sudah diterima disebuah politeknik pertanian milik UNAND yang ada dipinggiran kota, hanya saja dia tidak punya uang untuk mendaftarkan ulang anaknya tadi. Dia meminta bantuan kepada saudara-saudaranya, dan ternyata uang yang awalnya diperuntukkan untuknya menjadi tidak seberapa karena adiknya memotong uang itu seenaknya. Dia tidak marah, dia diam saja, dan ikhlas menerima duit yang ada, dan sangat tidak cukup untuk biaya pendaftaran ulang tadi. Dan akhirnya sianak disuruh bekerja saja.

Aku marah! Aku membantah ketika ibu mengatakan bahwa dia tidak tegas karena tidak berani “menghardik” si adiknya tadi. Aku katakan pada ibu, seandainya aku ada pada posisi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama, lebih baik bagiku berdiri pincang dengan kesederhanaanku sendiri dibandingkan berdiri dibawah bayang-bayang orang lain atau berdiri diatas pundak orang lain, aku tidak akan pernah meributkan masalah uang kepada adik-adikku apalagi terkait dengan harta warisan, lebih baik aku miskin dalam kesempurnaanku daripada bertengkar dengan saudaraku sendiri hanya karena uang. Lebih baik aku menghadapi nasibku sendiri, lebih baik kulitku hitam legam hingga tidak enak lagi untuk dilihat, daripada mengemis takdir kepada siapapun. Tugas saudara lah untuk membantu saudara yang lain, bukan malah menjadikan kondisi semakin buruk.

Aku marah! Benar-benar marah! Aku memahami posisinya sebagai kakak tertua dikeluarga berikut dengan semua harapan yang dulu pernah kakek ceritakan padaku yang tak bisa dia penuhi, aku seperti bercermin dengan jalan hidupnya. Aku tahu aku justru banyak belajar darinya, aku ingat dia, pamanku.

sebatang lisong

August 7, 2009 at 1:51 am | In Uncategorized | Leave a Comment

itu pagi aku berangkat kantor, baca koran sebentar

itu pagi aku baca kabar tentang burung merak yang tugasnya sudah kelar

itu aku ingat puisi tentang pemuda dan seonggok jagung yang dulu aku bawa kemana-mana

menjadi bahan bakar ketika putus asa lebih sering mampir saat idealisme masih malu-malu kucing

itu orang yang kemudian aku angkat menjadi guru secara sepihak

itu orang yang mengajarkan tentang indonesia, tentang hidup dan kehidupan

itu orang bernama Rendra; yang pagi ini dipanggil oleh-Nya

aku turut berduka, selamat jalan guru, selamat jalan pemikiran..

badai

July 31, 2009 at 7:51 am | In Uncategorized | 4 Comments

Ketika semua bayang menjauh dari tubuh
Dan ketika semua angan enggan menyapa
Terbaring aku, terjebak aku
Di keheningan dalam ketiadaan

Kucoba cahayai ruang jiwa ini
Terus berharap dan terangi
Kucoba sembunyikan suara hati
Terus menampik dan berlari

Kutenggelam dalam kelam
Dan menjauh tanpa bayang
Kucoba menelan luka yang tak kunjung usai

Teriakan namamu
Dikesunyian hatiku
Meraba, merangkul suryamu
Dikehangatan jiwamu

Saat kebenaran tak lagi bermakna
Aku tersandar dan terdiam
Kemana akan kubawa diriku pergi
Semakin jauh, semakin rapuh

Lepaskan diri, jatuh membusuk
Biarkan aku, hilang .. Muak !

soekarno

July 28, 2009 at 4:41 am | In Uncategorized | 2 Comments

aku tahu, aku yakin seandainya aku ada dizamannya, tentu aku juga akan serupa dengan Chairil Anwar. aku memihaknya, meski aku tahu dia tak sempurna, aku kan memberikan pundak dan lenganku sepenuh hati, bersamanya, untuk negri ini.

ada pantun yang bunyinya berakit rakit kita kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit kita dahulu, bersenang-senang kita kemudian. inii adalah dialektik suatu bangsa yang ingin menjadi bangsa yang besar. kemaren aku baca Ramayana saudara-saudara, Ramayanaa..didalam kitab ramayana itu ada disebutkan satu negri, namanya negri utaraguru, disebutkan didalam kitab ramayana itu bahwa negri utaraguru itu tidak ada panaas yang terlalu, tidak ada dingiiin yang terlalu, gak ada manis yang terlalu, gak ada pahit yang terlalu, segalanya itu tenaaaaang tenang. ora no panas ora no adem, gak ada gelap, tidak ada terang yang cemerlang.. adem tentrem.. didalam kitab ramayana itu sudah dikatakan. hemm.. negri yang begini tidak bisa menjadi negri yang besar, sebab tidak ada UP and DOWN.. UP and DOWN.. perjuangan tidak ada.. semuanya itu adem tentrem, seneng seneng.. tidak terlalu seneng tidak terlalu sedih.. sudahlah..sudahlaah utaraguru. apakah kau ingin menjadi bangsa yang demikian saudara-saudara? TIDAK. kita tidak ingin menjadi suatu bangsa yang demikian, kita ingin menjadi bangsa yang setiap hari digembleeng oleh keadaan, digembleng.. hampir hancur lebur, BANGUN kembali..digembleng.. hampir hancur lebur, BANGUN kembali. hanya dengan jalan begitulah kita bisa menjadi bangsa yang benar-benar bangsa otot kawat tulang besi..

-pidato Soekarno, pada perayaan maulid nabi tahun 1963-

dia pribadi besar. dia guru. dia pemimpin. dia salah satu manusia terbaik yang pernah dimiliki negri ini.

oi oi

July 16, 2009 at 1:45 am | In Uncategorized | 3 Comments

Seorang sahabat mengatakan bahwa, ‘tidak ada sebenarnya istilah selesai baik-baik, karena kondisi baik-baik tidak akan membuat hubungan kalian menjadi selesai’. Mungkin ada benarnya juga, setelah pesan singkatmu yang aku terima semalam, aku sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Badai itu datang justru ketika kondisi baik-baik saja, kita bertukar kabar, bertukar pesan dan saling mengetahui kondisi masing-masing. Bahkan akan sering ada kalimat ‘seharusnya aku ada disitu sewaktu kau melakukan ini itu..’, atau ‘seharusnya aku adalah orang yang pertama tahu ceritamu..’ atau kalimat lain yang sejenis. Dan sepertinya itu semakin memberatkanmu memberatkanku. Baiknya begini saja –sama seperti permintaanmu-, kita benar-benar tidak usah bertukar kabar, pesan atau apapun. Semua itu cukup datang saat Tuhan benar-benar menginginkannya, maksudku dengan artian bahwa kita tidak membuat-buat kesempatan itu untuk ada. Biarkan apa adanya saja.

Saya pasti merindukan masa-masa itu, saya pasti berterima kasih untuk semua proses pendewasaan diri yang telah kita jalani. Saya pasti bersyukur mengingat saya pernah mencintai seseorang dan dicintai dengan begitu dalam, indah. Bahwa saya sadar hubungan ini tidak akan berlangsung selamanya tidak membuat saya menyesal melakukan semuanya. Adalah untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, adalah melihat bahwa kata ‘putus’ tidak membutuhkan alasan apapun (karena alasan apapun tidak akan memuaskan siapapun). Adalah belajar menghilangkan rasa posesif, untuk tidak egois dan sejenak melupakan harga diri. Adalah untuk belajar menjadi lebih dewasa.

Dan apabila suatu saat kau menanyakan kabar hatiku, kau akan selalu mendapati jawaban

“my heart goes fine, and I’m sure you too.. :D

pemilu ke 2

July 9, 2009 at 2:09 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Melihat proses pemilihan langsung kali ini, aku senang. Bukan sekedar karena pihak yang diprediksikan menang adalah pilihanku, tetapi karena melihat ekspresi bangsaku hari ini; sangat optimis;setengah penuh. Aku semakin percaya bahwa keruwetan memang lebih banyak adalah ulah para elit, sedangkan pada tataran masyarakat paling bawah mereka tetap tersenyum, tertawa dan sumringah, entah siapapun yang menang, apakah itu jagoan mereka atau bukan.

Aku bertanya pada ayah dan ibu,

“siapa yang ayah ibu contreng?”

Dan tidak lama kemudian pun mereka membalas singkat,

“seperti pilihanmu saja, no 2”.

Aku tersenyum, sembari menyadari bahwa aku tidak berpartisipasi pada pemilu kali ini, namun semoga pilihanku tidak benar-benar butuh satu untuk menang. Kalaupun terjadi, tentu aku akan menjadi orang yang paling menyesal 5 tahun kedepan.

Tetap tersenyum indonesiaku, beri aku ruang beri aku arti, dan akan kubalas dengan semua yang aku punya. :)

Selamat bertugas Pak SBY dan Budiono, lewat kalian aku berdoa untuk Indonesia. Tanah air kan jaya selalu.

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.