<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ketua kelas</title>
	<atom:link href="http://ketuakelas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ketuakelas.wordpress.com</link>
	<description>Live as we know it... :)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 13:39:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ketuakelas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ketua kelas</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ketuakelas.wordpress.com/osd.xml" title="ketua kelas" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ketuakelas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Titik (1)</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/26/titik-1/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/26/titik-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 13:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Kepada kamu Pada satu titik di masa depan, aku akan mempercayakan sepenuhnya agendaku kepadamu, manisku. Di titik itu, aku adalah pesakitan, dan kamu adalah dokter yang sabar. Aku yang menjalani hari terlalu banyak jauh dari rumah, adalah aku yang butuh terapi untuk lebih banyak kembali kepada rumah. Disana ada kamu, sebagian besar mimpiku, dan nasib [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1723&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kepada kamu</em></p>
<p>Pada satu titik di masa depan, aku akan mempercayakan sepenuhnya agendaku kepadamu, manisku. Di titik itu, aku adalah pesakitan, dan kamu adalah dokter yang sabar. Aku yang menjalani hari terlalu banyak jauh dari rumah, adalah aku yang butuh terapi untuk lebih banyak kembali kepada rumah. Disana ada kamu, sebagian besar mimpiku, dan nasib yang aku gantungkan dengan setia pada setiap berandanya. Aku juga sangat membutuhkan ketenangan itu, dan barangkali kamu sudah tahu –karena aku seringkali mengulangnya, bahwa kamu adalah ketenangan yang aku tuju. Harus ada proses panjang menemukan rumah, perjuangan menemukan arti pergi dan kembali, proses tanpa henti menuju laut tempat semua sungai bermuara. Titik ini hanyalah persimpangan, dimana takdirmu bertemu takdirku pada sebuah sore yang rapuh di atap sebuah pasar. Kita telah menjalani malu-malu kucing yang berwarna merah jambu, serangkaian kisah ‘<em>stranger by the day</em>’, dan beberapa kali upaya maju mundur untuk menentukan arah. Toh, akhirnya kita memutuskan untuk berjalan bersama, setelah Dago Pakar, Sukawana dan Jayagiri kita tapaki dengan perlahan –tapi pasti. Aku tahu kamulah si dia.</p>
<p>“Bapak kamu jaga warnet ya?”<br />
“Loh… kok tahu?”<br />
“Karena kau telah berhasil men-<em>download</em> hatiku… :”&gt; “</p>
<p>Awalnya aku percaya bahwa hati dipilih bukan memilih. Tapi kemudian aku sadar, bahwa itu bukanlah kondisi terbaiknya. Dalam diamnya, hati memilih dan dipilih secara bersamaan. Dia bekerja dua arah, seperti mereka yang saling bertukar kabar dengan telepon.</p>
<p>Dan sadarkah kamu bahwa kita dianugrahi kesempatan itu?</p>
<p>Lalu perjalanan berikutnya adalah mencari jalan terbaik, berjuang mati-matian menjaga harmoni, maju selangkah demi selangkah. Gamang? Tentu saja! Ini adalah kali pertama! Oleh karena itu aku dan kamu semakin saling menguatkan. Kita adalah mereka yang ditempa oleh keadaan, bukan mereka yang dilenakan oleh begitu banyak kemudahan. Dalam gugupku, aku menemui kedua orang tuamu. Dalam gugupku, aku membicarakan rencanaku, rencanamu, rencana kita. Aku tahu aku beberapa kali kehilangan kalimat, mantra agar lisan dimudahkan tak selamanya bekerja dalam suasana hati yang bercampur aduk antara antusias, khawatir dan cinta. Tapi tenang saja, tak ada kalimat yang lebih ampuh daripada pembicaraan dari hati ke hati.</p>
<p>Dan kita tersenyum sesudahnya. Jalan masih panjang, tetapi keindahan ada di sepanjang jalan. Hidup tak berasosiasi dengan tujuan. Hidup adalah keindahan yang kau temukan lewat angin yang bertiup pelan ataupun tidak, lewat bunga yang mekar dari tempat paling jarang dilihat, atau senyum dari musuh yang paling kau benci.</p>
<p>Hidup adalah hidup.</p>
<p><strong><em>Dan garis (hidup) bukankah rangkaian dari titik-titik (moment)?</em></strong></p>
<p><em>Selamat malam, gadisku.</em><br />
<em> Yours</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1723/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1723&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/26/titik-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>epiphany</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/20/epiphany/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/20/epiphany/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 09:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[/1/ Gelisah-gelisah yang hadir dan hilang bersama pertemuan dan sebuah ritual datang-mampir-pergi, kenangan yang menggelayuti melebihi bayangan diri di musim panas, matahari yang terik dan angin yang kering, kemanakah bahagia akan mengarah? Kepada Timur aku menujumu, sesekali kepalaku mendongak ke Barat, di Utara, cahaya kutub memanggil dengan ceria, dan burung bermigrasi dari mana menuju ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1718&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><br />
/1/<br />
Gelisah-gelisah yang hadir dan hilang bersama pertemuan dan sebuah ritual datang-mampir-pergi, kenangan yang menggelayuti melebihi bayangan diri di musim panas, matahari yang terik dan angin yang kering, kemanakah bahagia akan mengarah?</em></p>
<p><em>Kepada Timur aku menujumu,<br />
sesekali kepalaku mendongak ke Barat,<br />
di Utara, cahaya kutub memanggil dengan ceria,<br />
dan burung bermigrasi dari mana menuju ke Selatan.</em></p>
<p><em>Lalu dimana ketenangan akan berlabuh?</em></p>
<p>Sore itu aku katakan padamu bahwa ‘tenang’ lebih baik tak hadir di hari ini, seandainya dia ada saat ini, mungkin kau dan aku akan kehilangan harapan baik di masa depan, barangkali kita berdua tak lagi mengenal kata ‘perbaikan’.</p>
<p>PS: tak perlu merubah kiblat, Tuhan adalah segala arah.</p>
<p>/2/<br />
<em>Perjalanan yang dimulai dari debu menuju debu memang tak pantas untuk dipajang di rak buku. Dia tak selayaknya pengetahuan yang mesti dikekalkan, dia juga bukan cuplikan ayat yang berwujud daun, kulit pohon dan batu. Debu adalah debu. Perjalanan adalah dia yang hanya hadir saat ada titik bernama rumah dan ada proses yang bernama pulang. Disana ada ibu atau ibu yang hanya tinggal nama.</em></p>
<p>Tapi, bukankah Tuhan juga hadir di dalam Debu?</p>
<p>/3/<br />
‘Silahkan ke Timur sedikit saja, disana ada Papuma. Temuilah seorang rahib yang menjagai sebuah kuil dengan warna dominan merah yang juga berada di depan sebuah gua pemujaan. Saat melihat wajahnya, kau akan tahu bahwa dialah yang ingin kau temui.’</p>
<p>Aku tahu perjalanan ini cukup menakutkan. Tapi takut adalah dinding yang harus dilompati demi sesuatu di baliknya; hari yang lebih ceria, diri yang lebih sederhana (atau tidak?). Ada manusia kerdil yang suka mencuri ikan hasil nelayan dan memunculkan suara riuh di malam hari. Siapa mereka tak pernah ada yang tahu pasti. Sekali waktu, dalam subuh yang penuh kabut (teluk ini jarang sekali didatangi kabut), ada beberapa bekas telapak kaki seukuran setengah meja yang seolah-olah muncul dari dalam lautan dan berjalan menuju daratan. Kaki siapa? Lalu kemana dia bersembunyi? Bukankah dengan ukuran kaki sebesar itu, bersembunyi bukanlah hal mudah di zaman ini? Tak pernah yang tahu pasti… dia datang dan barangkali bersembunyi di dalam kabut.</p>
<p>/4/<br />
<em>Ada yang membakar diri di depan simbol negara. Jangan pernah kau tanya untuk apa, sekalipun jangan.</em></p>
<p>Karena ketika negara bersekongkol dengan dia yang memiliki kekuasaan tanpa hati, dia yang berkoar membersihkan tapi kita tahu mereka hanyalah sekumpulan orang tak tahu diri yang tak punya malu (dan jangan-jangan kemaluan), ada yang mesti dibongkar, tanpa atau dengan harapan.</p>
<p><em>Tidak ada yang lebih buruk dari gabungan negara, korporat, preman dan aparat!!!*</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1718/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1718&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/20/epiphany/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>hari penampakan Tuhan</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/17/hari-penampakan-tuhan/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/17/hari-penampakan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 08:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1710</guid>
		<description><![CDATA[‘Kau boleh menempati kursi yang mana saja…’, kelas dongeng saban sabtu sore itu aku mulai. Belum banyak yang hadir disana, tetapi dia selalu ada, sejak pertama kali kelas ini dibuka. Karena itulah dia mendapatkan semacam privilage kecil, dia boleh menduduki bangku yang mana saja, sedangkan para peserta lain mesti duduk di tempat yang sudah ditentukan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1710&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>‘Kau boleh menempati kursi yang mana saja…’, kelas dongeng saban sabtu sore itu aku mulai. Belum banyak yang hadir disana, tetapi dia selalu ada, sejak pertama kali kelas ini dibuka. Karena itulah dia mendapatkan semacam <em>privilage </em>kecil, dia boleh menduduki bangku yang mana saja, sedangkan para peserta lain mesti duduk di tempat yang sudah ditentukan.</p>
<p>‘Sore ini kita kembali bertukar cerita. Saya akan memulainya, seperti biasa, setelah itu kalian bercerita apapun yang kalian inginkan…’</p>
<p>Atap pasar itu hening. Semua kursi sudah hampir terisi penuh.</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Apakah kalian mengetahui tentang Hari Penampakan Tuhan? </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Hari itu kemudian dikenal dengan istilah ‘Horo’. Beberapa abad lalu, dalam sebuah sore yang sepi, di pinggir sebuah sungai berair jernih yang bernama Tundzha yang selalu beku pada musim dingin, seorang laki-laki berjalan sendirian. Pakaiannya begitu sederhana, terlalu sederhana. Itu menjadikan dirinya aman dari para penyamun dan pencuri iseng. Tak ada yang bisa dicuri dari laki-laki seperti itu. Sebuah Rosario kecil senantiasa menggantung di pergelangan tangan kirinya. Dia seorang pendeta ortodoks. </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Itu adalah hari ke 39 perjalanannya, dimulai ketika dia menanggalkan semua jubah duniawinya. Dia membakar apapun yang menurutnya berharga dan berpeluang menjadikannya lupa diri; disana ada beberapa lembar uang, sebuah surat berharga, foto-foto keluarga, beberapa barang hadiah, dan piagam penghargaan dari gereja. Hari itu adalah hari dimana salju pertama kali turun di musim dingin tahun itu. Perjalanan selama 39 hari ini lebih pantas dianggap sebagai sebuah perjalanan bertahan hidup daripada perjalanan mencari hidup. Beban bukan saja pada jalanan yang tertutup salju tebal, tetapi juga dengan hujan salju yang menumpuk di pundak. Belum lagi bila dihitung dengan gelisah yang terus dibawa di dalam hati. </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Diam adalah prasyarat sempurna untuk mati. Apalagi di tempat seperti ini.</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Tapi dia merasa harus berhenti di tempat itu. Ada firasat baik yang memintanya untuk diam sejenak. Dan dia menurutinya. Angin datang dalam irama yang bergemuruh, bisa saja merontokkan nyali para petualang yang setengah hati-sikap yang setengah-setengah seringkali lebih membahayakan. Dia tak bergeming. Di samping sungai itu dia menemukan sebongkah batu seukuran gajah berukuran dewasa, menyembul hitam dari lingkungan sekitarnya yang putih. Dia kemudian duduk diam diatasnya. Di sekitar, angin dan alur sungai saling berlomba mencuri perhatiannya…</em></p>
<p>Kelas itu senyap, semua mata tertuju padaku. Aku melihat mereka dalam tatapan yang menerawang, aku sebenarnya tidak sedang melihat mereka, pikiranku bertualang jauh ke hari dimana cerita itu dikisahkan untuk pertama kalinya.</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Pendeta itu tidak pernah menyangka apa yang akan terjadi berikutnya. Ketika dia memejamkan mata, mengasah rasanya, merekam semua yang ditangkap oleh indranya, ada sesuatu yang perlahan hadir. Sekalipun tak pernah dia menyangka bahwa kisah Musa akan terulang sekali lagi di dunia ini, ketika Tuhan dengan ‘rendah hati’ turun ke bumi. Tuhan itu hangat. Dan kehangatan itulah yang perlahan muncul. Dia datang dari ketinggian yang absolut kemudian menyesap ke dalam hati yang paling dalam. Tubuhnya bergetar hebat, pepohonan riuh, sungai berhenti mengalir, dan saat dia membuka mata, semua menunduk dalam upayanya masing-masing. Dia menjadi takut, secepatnya dia kembali menutup matanya.<br />
</em></p>
<p>Kelas ikut menjadi riuh. ‘Darimana dia tahu bahwa yang datang adalah Tuhan?’, ‘Apa iya Tuhan itu hangat?’, ‘Bagaimana bentuk Tuhan?’. Mereka bertanya tanpa diminta, dan melontarkannya tanpa izin. Aku mendengarkan semuanya dengan baik. Tak satupun yang aku jawab detik itu, aku melanjutkan ceritaku.</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Pada hati yang terjaga, kita akan dengan nyata bisa membedakan mana nafsu dan mana cinta, mana hasrat dan mana yang mimpi, mana teman dan mana musuh. Dan apakah terlalu susah untuk membedakan mana Tuhan dan mana Setan? Semua tidak memerlukan takaran yang harus dibakukan, satu-satunya alat penilai yang bisa dipergunakan adalah hatimu. Kamu, kita, adalah serpihan cahaya Tuhan. Dan ketika dia kembali bertemu dengan sang Sumber, dia tak perlu sebuah proses perkenalan lagi, karena mereka tak pernah saling meninggalkan, tak pernah saling melupakan. Yang kemudian hadir adalah sebuah reuni kecil-kecilan serupa sepasang kekasih yang kembali berpelukan setelah terpisah begitu lama. Apakah kamu kesulitan membedakan apakah itu kekasihmu atau kekasihmu yang palsu?</em></p>
<p>Semua diam.</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Pendeta itu merasakan tarikan yang luar biasa. Dia melihat terang tanpa harus membuka matanya, jauh lebih silau daripada kondisi dimana kamu menantang matahari dengan mata tertutup. Dia tahu Dia ada di sana. Tapi bukankah Tuhan tak perlu hadir di sini? Dia merasa bersalah, dia yang mensyaratkan iman lewat sebuah perjumpaan akhirnya mengaku salah. Dia menunduk. Dalam. Dia menangis. </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>‘Tuhan, jangan datang di tempat ini… Tuhan, jangan datang hari ini…’</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Ucapan itu diulang-ulangnya hingga serupa mantra yang dirapal berulang-ulang sehingga kehilangan aturan bahasa bakunya. Kalimat yang diucapkan berulang dan dalam irama cepat beraturan akan kehilangan nada aslinya. Yang hadir adalah kepastian dan sebuah kesepahaman. Dia menuju vortex. Dia menuju puncak segitiga. Dia menuju kosong. Dia menuju tak ada. Dia menuju Tuhan.</em></p>
<p>Ceritanya selesai! Aku membuka mataku, menatap mereka dengan lega. Di suatu sore, akhirnya cerita ini aku sampaikan.</p>
<p>‘Apakah ada yang ingin kalian tanyakan?’</p>
<p>‘Apakah ada orang lain di tempat itu? Lalu bagaimana kemudian orang tahu bahwa pendeta itu bertemu Tuhan, dan memperingatinya sebagai hari penampakan Tuhan? Bagaimana kelanjutan hidup si pendeta?’</p>
<p>‘Tidak ada orang di tempat itu. Hanya pendeta itu saja. Tentu saja cerita ini tidak masuk akal bagi kebanyakan manusia, tapi siapa yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada yang benar-benar mengetahui sebuah pohon yang tumbang di tengah malam di tengah hutan? Peristiwa ini mulai diperingati oleh mereka yang mempercayai selembar manuskrip tua berwujud kulit kayu. Di atasnya tertulis sebuah pesan singkat; ‘<em>Tuhan, jangan datang di tempat ini… Tuhan, jangan datang hari ini…’ </em>Manuskrip itu masih dapat kau temui bila kau mengunjungi sebuah kapel tua yang didirikan tidak jauh dari sungai itu. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana nasib si pendeta, apalagi sejak pengisi gereja yang ditinggalkan oleh si pendeta sibuk mencarinya. Barangkali ada sebuah jejak yang tertinggal, atau sebongkah tubuh yang mati tertimbun es, atau terbawa sungai menuju muara yang jauh. Pencarian dilakukan bertahun-tahun, dan tak menghasilkan apapun. Manuskrip itu menjadi bukti terakhir yang ditinggalkan si pendeta; orang suci yang pernah berdosa, orang berdosa yang tak berhenti memperbaiki diri.</p>
<p>‘Kesempatanku selesai. Sekarang giliran kalian. Apa yang ingin kalian kisahkan?’</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1710/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1710&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/17/hari-penampakan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggapan terhadap Kolom koran PR berjudul &#8216;Almarhum Luki&#8217;</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/16/tanggapan-terhadap-kolom-koran-pr-berjudul-almarhum-luki/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/16/tanggapan-terhadap-kolom-koran-pr-berjudul-almarhum-luki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 04:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1702</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan ini. Sebuah tanggapan terhadap Kolom Pikiran Rakyat berjudul ‘Almarhum Luki’, yang ditulis oleh Achmad Setiyaji. Tulisan yang dimuat di kolom Pikiran Rakyat itu kembali memunculkan pertanyaan lama saya: bagaimana kualitas wartawan kita sebenarnya? Terkadang, bahkan kerap kali, rangkaian kata-kata jauh lebih tajam dari sebuah pisau. Sadar ataupun tidak, rangkaian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1702&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan<a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/20/almarhum-luki-ngelem/"> ini</a>.</p>
<p><em>Sebuah tanggapan terhadap Kolom Pikiran Rakyat berjudul ‘<strong>Almarhum Luki’</strong>, yang ditulis oleh <strong>Achmad Setiyaji.</strong></em></p>
<p>Tulisan yang dimuat di kolom Pikiran Rakyat itu kembali memunculkan pertanyaan lama saya: bagaimana kualitas wartawan kita sebenarnya?</p>
<p>Terkadang, bahkan kerap kali, rangkaian kata-kata jauh lebih tajam dari sebuah pisau. Sadar ataupun tidak, rangkaian kata-kata dapat menusuk dan dapat melukai banyak pihak. Terlebih jika merupakan sebuah fakta yang bukan sebenarnya terjadi.</p>
<p><strong>‘AlmarhumLuki’ </strong>tampak ditulis oleh orang yang malas untuk mencari data akurat tentang apa yang ingin diberitakannya, dan parahnya, digabungkan dengan sikap latah untuk mengkritik pemerintah. Barangkali ini perangkap di banyak media massa, dimana berita yang laku untuk dijual adalah berita yang menyudutkan suatu pihak, dan pemerintah adalah pihak yang senantiasa ‘pantas’ untuk disudutkan. <em>Bad news is good news</em>!</p>
<p>Dan karena <strong><em>Achmad Setiyaji </em></strong>menuliskan tentang kami, Rumah Belajar SAHAJA (Sahabat Anak Jalanan), maka ini adalah tanggapan kami.</p>
<p>Dengan tegas kami (Rumah Belajar SAHAJA) menyatakan bahwa adik kami, Luki, <strong>BUKAN </strong>meninggal karena dampak <em>ngelem</em> seperti yang dituliskan, tetapi beliau meninggal karena racun ular berbisa. Tentu saja berita terkait bisa ular ini tidak menarik untuk dimasukkan ke dalam Kolom tersebut, karena tidak bisa dihubungkan dengan keinginan untuk menyudutkan pemerintah, oleh karena itu tidak laku untuk dijual. Tentu masyarakat akan menilai ‘aneh’ apabila si penulis menyebutkan bahwa Luki meninggal karena sengatan ular berbisa sehingga pemkot/dinsos Cimahi dinilai gagal.</p>
<p>Yang kedua, mengenai pihak yang disudutkan oleh penulis; pemerintah.</p>
<p>Dengan senang hati kami akan menuliskan bahwa pemerintah kotamadya Cimahi melalui Dinas Sosial-nya sudah banyak membantu pembinaan ‘anak jalanan’ di wilayah Cimahi, bekerjasama dengan kami, Rumah Belajar SAHAJA.</p>
<p>Apakah sudah efektif dan maksimal? Tentu saja masih jauh dari cukup, tapi tahukah penulis tentang apa yang sudah kami lakukan? Dan kenapa begitu malas untuk mencari tahu? Sehingga tulisan yang muncul hanyalah persepsi yang tidak berdasar. Rumah Belajar SAHAJA Cimahi adalah satu dari beberapa Rumah Belajar lain yang ada di wilayah Bandung dan sekitarnya yang memberikan pendidikan informal kepada ‘anak jalanan’ seperti membaca, menulis, berhitung, belajar ketrampilan, seni, mengaji, dan lain sebagainya.. Kami juga memiliki Rumah Belajar SAHAJA di Ciroyom, Cihampelas dan sedang dalam proses pembuatan Rumah Belajar di Cimindi dan Buah Batu.</p>
<p>Rumah Belajar SAHAJA Cimahi memulai kerjasama yang baik dengan Dinas Sosial Cimahi sejak 2010. Sejak saat itu, pemkot cimahi melalui Dinsos Cimahi membantu kami dalam pengadaan rumah belajar yang hingga kini masih kami tempati. Dengan bantuan Dinsos Cimahi jugalah kami dapat membawa ‘anak jalanan’ binaan kami jika terkendala masalah kesehatan ke Rumah Sakit, sehingga apabila ada ‘anak jalanan’ yang harus masuk rumah sakit, dia dapat dirawat tanpa mengeluarkan biaya. Begitu juga apabila ‘anak jalanan’ yang dalam didikan kami terjaring razia yang dilakukan oleh Satpol PP pemkot setempat, misalnya, maka si anak akan dikembalikan kepada kami, untuk kembali dibina oleh kami, karena mereka sudah terdata sebagai anak didik di Rumah Belajar SAHAJA Cimahi. Dalam selang waktu itu juga kami dengan bantuan Dinsos sudah mengantarkan ‘anak jalanan’ kami untuk mengikuti pelatihan selama 10 bulan di Lembang. Pembinaan ini dilakukan melalui Balai Rehabilitasi Sosial Pamardi Putra.</p>
<p>&#8216;Anak jalanan&#8217; tetaplah anak-anak yang membutuhkan kasih sayang. Datangilah, pandang matanya. Disana akan terlihat bahwa beban yang mereka tanggung tidaklah seringan yang kita kira. Terjun ke dalam dunia jalanan sama artinya dengan menenggelamkan diri dalam kubangan masalah. Bergerak untuk menyelamatkan mereka tidaklah mudah, namun bisa dilakukan. Berhasil atau tidak, tidak ada yang menargetkan. Yang ingin kami lakukan adalah bergerak, bukan diam. Berhentilah mengutuk. Jika belum mampu untuk bergerak, maka bantulah kami dengan doa dalam diam kalian. Itu sangat berarti bagi kami. Sangat.</p>
<p>Dengan sadar kami mengakui bahwa masih banyak hal yang jauh dari cukup atas apa yang kami kerjakan selama ini. Namun, tentu saja lebih buruk bila yang bisa dilakukan hanyalah mencela kegelapan tanpa berusaha sedikitpun menyalakan lilin. Apalagi itudisebarkan melalui media massa. Dan ingat, apabila sudah bermain dengan ranah publik, perhatikan tanggungjawab sosial anda.</p>
<p>Semoga bisa menjadi pelajaran bagi semua.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Hengki Eko Putra dan Rahma Ainun Nisa<br />
<strong>Relawan Rumah Belajar SAHAJA</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1702/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1702&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/16/tanggapan-terhadap-kolom-koran-pr-berjudul-almarhum-luki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>milestone</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/12/milestone/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/12/milestone/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 07:35:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1699</guid>
		<description><![CDATA[Hidup harus diisi dengan titik-titik kecil tapi menentukan. Dari sanalah kemudian kita menyadari apakah kita sebenarnya bergerak maju, diam di satu tempat atau malah bergerak mundur. Titik tadi menjadi acuan. Sabtu ini adalah salah satunya. Kita punya semua pilihan untuk melakukan apapun, memilih alur hidup mana yang layak untuk dijalani, bisa dengan memilih untuk tetap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1699&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup harus diisi dengan titik-titik kecil tapi menentukan. Dari sanalah kemudian kita menyadari apakah kita sebenarnya bergerak maju, diam di satu tempat atau malah bergerak mundur. Titik tadi menjadi acuan.</p>
<p>Sabtu ini adalah salah satunya.</p>
<p>Kita punya semua pilihan untuk melakukan apapun, memilih alur hidup mana yang layak untuk dijalani, bisa dengan memilih untuk tetap disini saja, atau malah memberanikan diri untuk selangkah lebih maju. Dan aku memilih satu langkah maju itu. Prasyaratnya sudah lengkap, hati yang tidak lagi dikaburkan oleh syak wasangka dan sesuatu yang mengganjal, memilihlah ketika tenang, dan aku memilihmu.</p>
<p>‘Kamu dalam suasana hati yang baik untuk sebuah diskusi serius?’, tanyaku.<br />
‘Iya… silahkan…’<br />
‘Aku sadar bahwa kita akan tetap <em>&#8216;begini-begini saja&#8217;</em> selama tidak ada keberanian untuk maju selangkah maju. Dan aku ingin melangkah maju’. Jeda sejenak.<br />
‘Aku ingin berdiskusi dengan ibumu… perihal semuanya, tentang mimpi kita, mimpiku dan sudut pandangku terhadap beberapa hal…’<br />
Kamu tetap diam, barangkali terdiam. Aku dan kamu sudah melewati serangkaian percakapan tentang yakin dan diyakinkan.</p>
<p>Dan niat itu ternyata setipis kabut yang menutupi hutan Jayagiri di pagi hari saat kita memasukinya. Dia mudah sekali buyar bila matahari mengusiknya. Tapi keteguhan hati memastikan dia tetap setia bersama pucuk pepohonan. Dalam keterasingannya sendiri. Dan aku harus mengkondisikan hatiku seperti itu juga, aku akan melangkah mantap ke rumahmu –meskipun dengan kepala yang riuh dan detak jantung yang saling berlompatan; kupu-kupu serasa membuat sarang di dalam perut dan terbang bersamaan di satu waktu, seolah-olah terusik oleh sesuatu yang menakutkan. Aku sadar aku tidak tahu apa-apa tentang proses ini, dan aku yakin kamu juga begitu –karena kita berdua belum pernah menjalani proses ini sebelumnya, kalau sudah pernah, berarti harus dicurigai :)))</p>
<p>Aku sudah siap untuk kondisi apapun. Aku datang bersama kesadaran, aku datang untuk menjemputmu, ketenangan.</p>
<p>Bismillah.</p>
<p><em>PS: aku tahu susunan bahasaku tak baik kali ini, huft… kepalaku riuh, adrenalin terpompa dalam kondisi di atas rata-rata, tapi dengan antusiasme yang luar biasa! Doakan! Penantang tergigih akan maju sabtu ini! :D</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1699/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1699/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1699/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1699&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2012/01/12/milestone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MT. Zen -prelude</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/30/mt-zen-prelude/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/30/mt-zen-prelude/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 02:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1694</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang, laki-laki 80 tahunan itu mengganti subjek dari ‘saya’ atau ‘kamu’ menjadi kita. Dan kalau sudah begitu, saya merasa terbelah, menjadi subjek dan objek pada waktu yang bersamaan. ‘Orang seperti kita ini akan terus bertanya tentang banyak hal. Orang akan heran, atau bahkan juga kasihan karena kita tak kunjung merasa ‘bahagia’. Orang mengira kita memandang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1694&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang, laki-laki 80 tahunan itu mengganti subjek dari ‘saya’ atau ‘kamu’ menjadi kita. Dan kalau sudah begitu, saya merasa terbelah, menjadi subjek dan objek pada waktu yang bersamaan.</p>
<p>‘Orang seperti kita ini akan terus bertanya tentang banyak hal. Orang akan heran, atau bahkan juga kasihan karena kita tak kunjung merasa ‘bahagia’. Orang mengira kita memandang segala sesuatu itu dengan murung. Bagaimana itu ya…?’.</p>
<p>Ada jeda. Dia tersenyum. Sumringah. Saya sudah hafal jeda ini. Sebentar lagi dia akan melanjutkan…</p>
<p>‘Kita bepergian kemana saja kita mau. Terus-terusan merasa sendiri. Tapi jangan salah, kita ini lebih family man’.</p>
<p>Dia tertawa. Saya ikut tertawa juga.</p>
<p><em>Kalau sudah berbicara seperti ini, saya merasa dia bercerita banyak hal yang barangkali cuma ada di dalam pikirannya. Dia bukan orang yang mengabdi pada sepi itu-meskipun dia punya seluruh bekal untuk itu. Dia adalah tokoh bagi banyak manusia lain, dia terkenal-dan menikmati bagian itu. Jadi, ketika dia berbincang tentang jalan yang sepi, tidak ramai orang, hanya ada kamu dan angin yang menderu-deru, kamu menangis karena angin atau air atau gemuruh ombak; dia <em>justru sedang bercerita tentang</em> impiannya. Dia pencinta puncak gunung-saya juga. Dia memanfaatkan dengan baik jeda umur yang memang lebih panjang dari kebanyakan orang. Barangkali dia sudah menjejakkan kaki di seluruh tempat yang dia rasa harus </em><em>dia </em><em>kunjungi, kecuali satu; kutub selatan. ‘Pernah melihat aurora?’, kata saya. ‘Itu dia! Saya tak sempat melihatnya!’</em></p>
<p><em>Saya seperti sedang dipersiapkan untuk sebuah jalan yang dulu dia ragu-ragu untuk benar-benar menjalaninya. Tampak tidak ada spiritualitas yang dominan dalam hidupnya; dia meragukan semuanya, termasuk Tuhan. Tapi bukankah kita lebih percaya Tuhan daripada ‘mereka’? Tuhan yang tak pernah mencapai kata ‘cukup’ dalam pemahaman, oleh karena itu adalah Tuhan yang senantiasa harus dicari. Bukan Tuhannya para filsuf –seperti yang dijelaskan gamblang dalam dua buku barunya Goenawan Muhammad, bukan juga Tuhan para ustad kebanyakan. Tuhan yang tidak ‘picik’ seperti Tuhannya Ibrahim ataupun Daud. Minimal, saya mengimani Tuhan yang tidak seperti itu.</em></p>
<p>Dan berkali-kali saya mengingat pertanyaan dia sore itu; kamu merasa sendiri ya?</p>
<p>Hmm.. barangkali tidak juga. Saya justru lebih baik saat sendiri, tak ada perasaan khawatir menyakiti siapapun, tak perlu ada perasaan takut merusak siapapun.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1694/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1694&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/30/mt-zen-prelude/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sinterklas tak datang malam ini</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/25/sinterklas-tak-datang-malam-ini/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/25/sinterklas-tak-datang-malam-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 16:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1689</guid>
		<description><![CDATA[/1/ Iya, hidup hanyalah perjuangan tanpa henti menuju keseimbangan; tidak berlebihan, tidak terburu-buru, tenang di hati, tenang di hari. Keseimbangan adalah menyadari bahwa kamu paham apa yang kamu cari; pada banyak kondisi kamu menyadari apa saja yang kamu inginkan dan mana saja yang kamu butuhkan. Kesadaran itu perlu. Kesadaran itu matahari. Kesadaran itu matahati. Kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1689&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p>Iya, hidup hanyalah perjuangan tanpa henti menuju keseimbangan; tidak berlebihan, tidak terburu-buru, tenang di hati, tenang di hari. Keseimbangan adalah menyadari bahwa kamu paham apa yang kamu cari; pada banyak kondisi kamu menyadari apa saja yang kamu inginkan dan mana saja yang kamu butuhkan.</p>
<p>Kesadaran itu perlu. Kesadaran itu matahari. Kesadaran itu matahati. Kamu sadar bahwa akan banyak orang yang akan menjadi korban, langkah terbaik mungkin memang sebuah lambaian tangan. Barangkali suatu saat kita akan bertemu lagi, bukan untuk mengulang kisah memang, tetapi untuk saling meyakinkan bahwa ‘benar kan, jalan bercabang yang masing-masing diambil dulu?’. Kamu menjadi jauh lebih baik, dan barangkali juga aku. :)</p>
<p>Setelah maaf, sisanya tak ada lagi, selain kenangan yang memang akan tertanam didalam ingatan, yang baik mengendap baik, yang buruk juga akan mengendap menjadi baik oleh berjalannya waktu.</p>
<p><em>Memang sungai yang memuarakan semuanya ke laut, tetapi bukankah sungai juga butuh waktu? :)</em></p>
<p>/2/</p>
<p>Bandung sore ini hujan, rumah baru di lantai empat ini sudah selayaknya surga. Dari jendela berkaca besar ini aku bisa menikmati hujan di rumah di susunan seberang, di kejauhan beberapa bagian kota Bandung tampak tertutup kabut.</p>
<p>Aku mencintai tempat tinggi. Ingin memiliki rumah di tempat tinggi. Mencintai puncak gunung. Mencintai pucuk pepohonan.</p>
<p><em>Dan aku teringat banyak sahabat yang ingin dan telah menggenapkan setengah hatinya.</em></p>
<p>Salam hormat dan selamat dariku untuk kalian semua, sobat. Cerita kalian semakin meyakinkanku bahwa ‘jalan itu’ memang menggelisahkan, tetapi bukan karena itu dia tidak menarik untuk dijalani. Malahan, dalam kegelisahan itu kita menjadi semakin <em>deg-deg an</em> menjalaninya. Pernikahan barangkali tanpa ilmu pasti, atau aku yang lebih nyaman memasukkannya ke dalam bagian abu-abu itu. Kenikmatan ada dalam perjalanan meraba daerah abu-abu yang tak pernah kita tahu pasti akan ada apa disana. Tapi bukankah itu yang menjadikan genggaman tangan kekasih semakin berarti?</p>
<p>Aku menikmati loncatan emosi melalui ‘cerita’ yang kalian sampaikan. Aku akan ingat wajah itu. Karena barangkali aku akan mencapai titik itu juga di suatu saat nanti. Minimal, dari cerita kalian aku bisa sedikit meraba seberapa menakutkan kah makhluk itu. Huehuehue…</p>
<p><em>Teruntuk M. Haikal Sedayo, Putri Suciati, Seterhen Akbar, Boma Prihandito, Joan Aprilla Arland, Fitri Muflihah, Eka Nurhamidah dan Yuslia Anggraeni. Selamat menjalani hari, selamat menjalani keseimbangan… :)</em></p>
<p>/3/</p>
<p>Selamat natal kepada semua yang merayakan, damai di hati, damai di bumi. :)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1689&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/25/sinterklas-tak-datang-malam-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bima – Sumbawa – Lombok</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/06/bima-sumbawa-lombok/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/06/bima-sumbawa-lombok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 10:36:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1679</guid>
		<description><![CDATA[Just another lucky bastard’s story… Pekerjaan di tempat saat ini (sekali lagi) membawa saya mengunjungi beberapa tempat baru di Dipantara. Tujuan kali ini adalah Bima. Sebuah nama yang misterius bagi saya pribadi, dia tidak asing, meskipun saya juga tak mengenalnya terlalu banyak. Dalam imajinasi saya, yang muncul adalah padang sabana lengkap dengan iklim kering dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1679&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Just another lucky bastard’s story…</em></p>
<p>Pekerjaan di tempat saat ini (sekali lagi) membawa saya mengunjungi beberapa tempat baru di Dipantara. Tujuan kali ini adalah Bima. Sebuah nama yang misterius bagi saya pribadi, dia tidak asing, meskipun saya juga tak mengenalnya terlalu banyak. Dalam imajinasi saya, yang muncul adalah padang sabana lengkap dengan iklim kering dan tanaman endemiknya, berikut juga dengan kuda-kuda yang berlarian liar di tengahnya. Di lain waktu, seorang sahabat pernah menyebut kata ‘Bima’ sebagai tempat untuk belajar tentang demokrasi yang baik. Hanya itulah bayangan saya saat itu tentang Bima.</p>
<p>Pekerjaannya adalah melakukan survei kerusakan terhadap bangunan aset pemerintah, ini terkait dengan gempa bumi yang terjadi pada 2008 dan 2010. Perlu diketahui berapa harga aset dan berapa besar dana yang mereka habiskan untuk memperbaiki atau membangun ulang bangunan tersebut. Survei dilakukan di 4 tempat; Bima, Dompu, Sumbawa dan Sumbawa Barat.</p>
<p>Awalnya saya dimasukkan ke dalam tim Bima. Ada yang mengganjal di hati, rasanya saya tidak ingin hanya berada di Bima selama seminggu itu. Kalau bisa, saya ingin mengunjungi sebanyak mungkin tempat di pulau Sumbawa ini. Peluang muncul ketika tim dirombak ulang karena ada beberapa perempuan yang dimasukkan ke dalam tim yang berjalan ‘jauh’. Perempuan disarankan untuk hanya mensurvei daerah yang dekat seperti Bima dan Dompu. Dari Bima ke Sumbawa dibutuhkan perjalanan darat selama 6-7 jam, dan Sumbawa Barat dalam selang 8-9 jam. Saya ingin ke Sumbawa Barat, atau minimal ke Sumbawa. Saya menawarkan diri untuk masuk ke dalam tim untuk 2 wilayah itu. Kebetulan salah seorang teman rela berganti tim dengan saya. Saya sumringah, mengingat perjalanan jauh yang akan sangat menyenangkan diantara Bima dan Sumbawa. Semakin banyak perjalanan, semakin banyak yang dilihat, semakin banyak yang bisa dirasakan (saya yakin bahwa teman saya akan menyesal karena telah rela berganti posisi ini, hihihihihi…)</p>
<p>Bima itu daerah dengan matahari yang sangat terik! Mungkin daerah paling terik yang pernah saya kunjungi (setelah dulu saya merasa bahwa daerah paling terik adalah Gorontalo). Tetapi udara tidak gerah dan se-‘berat’ Jakarta. Sumbawa berada di sebelah Barat dari Bima, setelah melewati wilayah Dompu. Gunung Tambora yang terkenal itu berada di dua kabupaten ini; Bima dan Dompu.</p>
<p>Setelah perjalanan panjang sekitar 7 jam, saya sampai di Sumbawa. Kota ini lebih ‘meriah’ dibandingkan dengan Bima dan Dompu (bahkan Dompu dapat dikatakan hanya berupa sebuah ‘kampung’). Cuaca disini tidak seterik di Bima, dengan pola pengembangan kota membentuk segitiga, terdiri dari 3 ruas jalan utama, toko-toko dan kantor pemerintahan mengisi sisi ketiga jalan tersebut. Ada satu istana di kota ini, yang rajanya baru saja dilantik beberapa minggu yang lalu (setelah hampir tidak pernah ada raja Sumbawa dalam selang 80 tahunan ke belakang). Sudah ada bandara di kota ini, meskipun tidak sebesar bandara di Bima, dan di beberapa tempat banyak spanduk tentang ‘dukungan pembentukan provinsi Sumbawa’.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Pekerjaan dapat diselesaikan lebih awal dari yang di agendakan. Semua data yang dibutuhkan sudah didapatkan. Pilihan pulang ke Jakarta hanya ada 2; naik pesawat dari Bima (itu artinya akan menempuh jalur darat sekitar 6-7 jam lagi seperti beberapa hari lalu), atau meneruskan perjalananan ke barat selama 6 jam dan kemudian pulang dari pulau itu; LOMBOK!!!</p>
<p>Tentu saja pulau ini sudah masuk ke dalam daftar tempat yang harus saya kunjungi! Dan ketika kemungkinan itu muncul, bagaimana mungkin untuk menolaknya? Kami semua sepakat akan pulang via Mataram dan tidak kembali ke Bima.</p>
<p>Berbeda dengan perjalanan Bima-Sumbawa yang harus dilakukan di malam hari, perjalanan Sumbawa-Mataram ini dilakukan siang hari. Keinginan saya untuk melihat padang sabana (barangkali) dapat terbayar hari ini.</p>
<p>Dan benar saja. Di sepanjang perjalanan antara kota Sumbawa menuju pelabuhan Poto Tano, kita disuguhi lanskap alam yang begitu memukau, perpaduan antara pantai yang indah dengan pegunungan dengan vegetasi iklim kering. Setelah mata terbiasa dengan vegetasi tropis ala hutan Sumatra dan Jawa yang hijau, pemandangan kering seperti ini menjadikan kita seolah-olah sedang berada di tempat yang asing. Warna rumput kering yang dominan dengan hijau yang hanya muncul satu-satu. Pemandangan ini semakin terasa luar biasa saat dilihat dari atas ferry yang menuju pelabuhan Kayangan di Lombok. Saya merekam sebanyak mungkin, pikiran saya melayang menuju pulau Komodo yang dibanyak tempat digambarkan lebih fantastis daripada ini. Suatu saat saya harus kesana!</p>
<p><img class="alignnone" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/373906_2374033106642_1124970434_32094399_2051493165_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/386278_2374031866611_1124970434_32094393_1043484877_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/389396_2374032106617_1124970434_32094394_788603908_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Dalam bahasa Sasak, kata lombok berarti lurus. Di pulau ini terdapat salah satu gunung besar yang cantik; Rinjani. Di pulau ini ada Senggigi yang terkenal, ada pantai Kuta yang memiliki nama yang sama dengan yang ada di Bali. Tidak banyak informasi awal yang saya ketahui tentang pulau ini.</p>
<p>Pulau ini barangkali adalah Bali pada masa permulaan arus kunjungan wisata asing. Lombok lebih lengang dibandingkan Bali. Bagi sebagian orang, ini menjadikan Lombok lebih baik daripada Bali, karena untuk keindahan alamnya, Lombok memang tak kalah dengan Bali, atau bahkan lebih indah! Tapi untuk kebudayaan, tentu saja Bali lebih kaya daripada Lombok. Bersama Bali, pulau ini adalah pertemuan dua sudut pandang yang bertolak belakang terkait ‘sex’. Sebuah fenomena dramatik yang bila diamati dengan cermat, banyak hal yang menarik untuk dibahas. Tapi jangan kali ini.</p>
<p>Di Gili Trawangan yang sangat tertata baik, kita dapat menikmati pantai pasir putihnya yang bersih. Sebagian besar restaurant dan penginapan dimiliki oleh orang asing, dengan tetap mempekerjakan orang lokal. Bersama Gili Meno dan Gili Air, Gili Trawangan adalah salah satu ikon utama wisata Lombok. Ketiga pulau ini bersisian, kita bisa saling memandang dari salah satu pulaunya. Di ketiga pulau ini kita bisa melakukan diving dan snorkeling, meskipun fasilitas olahraga air paling banyak ada di Gili Air.</p>
<p>Yang paling menarik adalah tentang angkutan kapal menuju ke 3 pulau ini. Saya pernah mengunjungi Pramuka dan Tidung di Kepulauan Seribu, juga pernah ke Bunaken di Manado, terkait dengan pengaturan angkutan umumnya, Gili Trawangan jauh lebih baik. Kita tidak perlu ‘dikerubungi’ oleh para pemilik kapal yang terasa ‘Indonesiawi <em>banget</em>’ itu, yang biasanya menawarkan kapalnya dan seringkali melakukan trik-trik penipuan terkait harga sewa kapal. Di tempat ini semua sudah diatur melalui sebuah koperasi, tarif penyebrangan sudah diatur, dan sudah ada loket pembelian tiketnya. Yang bisa naik kapal hanyalah mereka yang memiliki tiket! Untuk perjalanan ke Gili Trawangan kita harus membayar Rp 10 ribu sekali jalan, Gili Meno Rp 9 ribu, Gili Air rp 8 ribu. Dan bila ingin menyewa kapal, harga maksimumnya adalah Rp 480 ribu untuk rute ke 3 pulau dengan kapasitas maksimum 12 orang. Ini cendrung murah, kita dapat berwisata dengan nyaman! Hal yang sangat penting dalam urusan jalan-jalan.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/388051_2374037706757_1124970434_32094404_412503811_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/380424_2374039146793_1124970434_32094410_73768466_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/383721_2374039586804_1124970434_32094412_1155311095_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/392072_2374040386824_1124970434_32094416_1777355880_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/393327_2374040666831_1124970434_32094419_454250259_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p>Lombok memiliki beberapa daerah iklim, Lombok barat cendrung basah, Lombok tengah dan timur cendrung beriklim kering. Pantai Kuta Lombok berada di iklim kering ini. Dan tempat ini memukau saya!!!</p>
<p><img class="alignnone" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/383695_2374043906912_1124970434_32094434_1277915171_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/378442_2374045346948_1124970434_32094440_2108353176_n.jpg" alt="" width="504" height="172" /></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/381343_2374046266971_1124970434_32094444_1520870616_n.jpg" alt="" width="504" height="336" /></p>
<p>Tidak mudah mendeskripsikan betapa indahnya pantai ini, dan betapa luar biasanya lanskap alam yang bisa dinikmati. Pantai ini dikelilingi oleh bukit-bukit kecil, saya memilih satu diantaranya, saya naik ke puncaknya. Di puncak bukit, terlihat samudra Hindia yang biru dan luas, terlihat pantai pasir putih yang memanjang dari ujung ke ujung. <em>Di puncak bukit, saya menatap langit, bersyukur kepada Tuhan, dan saya sadar air mata saya mengalir perlahan…</em></p>
<p>Terima kasih, Tuhan. Peluk. &gt;:D&lt;</p>
<p>PS: foto selengkapnya tentang <a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2374036946738.2114004.1124970434&amp;type=3&amp;saved">Lombok</a> dan <a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2374024906437.2114003.1124970434&amp;type=1">Sumbawa</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1679/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1679&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/12/06/bima-sumbawa-lombok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/373906_2374033106642_1124970434_32094399_2051493165_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/386278_2374031866611_1124970434_32094393_1043484877_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/389396_2374032106617_1124970434_32094394_788603908_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/388051_2374037706757_1124970434_32094404_412503811_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/380424_2374039146793_1124970434_32094410_73768466_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/383721_2374039586804_1124970434_32094412_1155311095_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/392072_2374040386824_1124970434_32094416_1777355880_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/393327_2374040666831_1124970434_32094419_454250259_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/383695_2374043906912_1124970434_32094434_1277915171_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/378442_2374045346948_1124970434_32094440_2108353176_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/381343_2374046266971_1124970434_32094444_1520870616_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>merah marah</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/11/18/merah-marah/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/11/18/merah-marah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 05:38:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1677</guid>
		<description><![CDATA[Entah sampai kapan warna merah itu bersemayam di dalam diri, membawa amarah, gelisah, nada penghancuran, dan antusiasme untuk selalu memberontak. Dia begitu mudah terpicu oleh hal yang senada; nada-nada perlawanan dari pinggiran, orasi tentang revolusi yang tak pernah selesai, rangkaian berita tentang kumpulan politisi, aparat, dan ulama yang busuk. Slogan-slogan itu seperti sudah tertulis sedari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1677&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah sampai kapan warna merah itu bersemayam di dalam diri, membawa amarah, gelisah, nada penghancuran, dan antusiasme untuk selalu memberontak. Dia begitu mudah terpicu oleh hal yang senada; nada-nada perlawanan dari pinggiran, orasi tentang revolusi yang tak pernah selesai, rangkaian berita tentang kumpulan politisi, aparat, dan ulama yang busuk. Slogan-slogan itu seperti sudah tertulis sedari dulu; berontaklah, meskipun tak ada masa depan di dalamnya; ayo budayakan melawan!; tak perlu setia kepada pacarmu, tetapi setialah kepada revolusi!</p>
<p><em>Dan kalau sudah begitu, saya akan kembali mengingat dengan runut seluruh sisi akar rumput; darimana asal, dimana posisi saat ini dan hendak kemana hidup ini diarahkan? Dan kalau sudah begini, saya akan kembali menuju hatimu, tempat paling sunyi di dunia, yang hanya berisi aku-kamu-ruang hampa. Tempat dimana kita tak memiliki apa-apa tapi tak merasa kekurangan apapun.</em></p>
<p>Dan aku yakin kau tentu sudah paham mengapa aku begitu menyukai dini hari dan genggaman tanganmu…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1677/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1677&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/11/18/merah-marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>november</title>
		<link>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/11/18/november/</link>
		<comments>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/11/18/november/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 05:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ketuakelas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ketuakelas.wordpress.com/?p=1674</guid>
		<description><![CDATA[Pada November yang kekar, hujan menyerbu dalam barisan yang lebih rapat, angin menggoyangkan panji-panji barisan dengan lebih kuat, lebih bergejolak, lebih menakutkan. Namun, di dalam kamar itu suara hujan terkikis kaca. Gemuruhnya mau tak mau teredam oleh sekat yang bukan buatan alam. Pada akhirnya memang alam yang selalu mengalah, dalam kotak kaca itu, hujan tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1674&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada November yang kekar, hujan menyerbu dalam barisan yang lebih rapat, angin menggoyangkan panji-panji barisan dengan lebih kuat, lebih bergejolak, lebih menakutkan. Namun, di dalam kamar itu suara hujan terkikis kaca. Gemuruhnya mau tak mau teredam oleh sekat yang bukan buatan alam. Pada akhirnya memang alam yang selalu mengalah, dalam kotak kaca itu, hujan tak punya kuasa lebih untuk bersuara.</p>
<p>Dia bangkit dari tempat tidur setelah hampir bermalas-malasan di sepanjang hari; udara yang dingin dan hujan yang membentur dinding adalah prasarat sempurna untuk tidur sepanjang hari.</p>
<p><em>Tapi, jangan begitu…</em></p>
<p>Dia menuju baby grand, harta karus terbesar dan satu-satunya yang dimilikinya. Tidak banyak barang yang ada di dalam ruangan dengan cat putih itu, selain satu baby grand, satu ranjang berukuran king dengan selimut tebal, rak buku yang memenuhi satu sisi dinding, dan satu rak baju kecil. Piano kharismatik itu ditempatkan sedemikian rupa sehingga persis berada di antara ranjang dan kaca jendela yang berukuran besar dan tanpa rangka penyekat di tengahnya. Dari jendela kamar itu, di kejauhan punggung pegunungan berbaris rapi, dalam jarak dekat, sebuah pohon mahoni menjulurkan cabangnya dengan akrab. Dan saat hujan turun, piano itu seolah-olah sedang berbicara dengan hujan, dalam hening, dalam obrolan tanpa aksara. Dan di saat seperti itulah, si laki-laki tadi hanya akan duduk menatap ke dua nya –hujan dan piano-, seolah mencoba mencerma setiap bahasa yang tak terbahasakan itu. Namun, di dalam hatinya dia tahu, ke dua hal itulah yang akan menjadi temannya di sepanjang perjalanan.</p>
<p>-</p>
<p>Laki-laki itu tahu bahwa salah satu kelebihannya adalah dia mengoleksi begitu banyak rasa yang pernah hadir dalam hidupnya, menyimpannya rapi dalam sebuah kotak besi tua, dan ditempatkan di tempat paling tersembunyi dari ruangan itu. Dia tahu bahwa ‘rasa’ adalah barangkali harta yang paling berharga. Dan setiap kali dia menemukan rasa yang baru, dia akan menarik nafas lebih dalam, lebih perlahan, agar benar-benar dapat berkonsentrasi dan mengingat dan menyimpan rasa yang datang.</p>
<p>Dia hafal rasanya jatuh cinta, dia hafal rasanya ditolak terus-menerus oleh wanita yang disukainya, dia hafal rasanya mendatangi rumah kekasih untuk pertama kalinya, dia hafal ribuan rasa cemburu, dia hafal bagaimana rasanya menatap wajah kekasih saat dia tidak dalam kondisi emosi yang baik, dan jutaan rasa yang lainnya. Semua itu disimpannya dengan baik, karena dia yakin suatu saat pasti akan membutuhkan itu semua, entah di dini hari yang sepi, entah di petang yang berlomba seperti pagi, entah di laut tak bernama, entah dalam perjalanan menuju daerah tak dikenal, entah menuju hati seorang manusia.</p>
<p>Kita seringkali abai, pada dia yang datang bukan dalam bentuk fisik yang jelas. Angin, sayang, cinta… seringkali hanya dianggap begitu saja, tanpa pernah diberikan perhatian yang berarti. Dan ketika tak ada –namun menjadi sangat dibutuhkan- barulah kita merasa ada yang kurang.</p>
<p><em>Hujan dan piano adalah sahabat terbaik berbagi rasa</em>…</p>
<p>Terkadang, saat dia sudah tak kuat lagi menahan semuanya, dia menunggu dengan setia saat hujan turun. Dan ketika waktunya tiba, dia akan memainkan nada paling sendu yang pernah dipelajarinya dengan piano kesayangannya itu, dipetiknya tuts yang hanya memiliki dua warna beraturan itu, terkadang menekannya kelewat keras saat emosinya terasa memuncak, namun di saat lain dia hanya akan seperti menyentuhnya sedikit saja, seolah-olah piano itu adalah sepasang sayap kupu-kupu yang dilarang untuk dipegang kuat. Dia tahu kapan harus memulai, seperti dia juga memahami dengan baik kapan harus berhenti.</p>
<p><em>Ada yang harus pergi dulu, sebelum hati kembali bernyanyi…</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ketuakelas.wordpress.com/1674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ketuakelas.wordpress.com/1674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ketuakelas.wordpress.com/1674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ketuakelas.wordpress.com/1674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ketuakelas.wordpress.com/1674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ketuakelas.wordpress.com/1674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ketuakelas.wordpress.com/1674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ketuakelas.wordpress.com/1674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ketuakelas.wordpress.com/1674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ketuakelas.wordpress.com/1674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ketuakelas.wordpress.com/1674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ketuakelas.wordpress.com/1674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ketuakelas.wordpress.com/1674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ketuakelas.wordpress.com/1674/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ketuakelas.wordpress.com&amp;blog=2823013&amp;post=1674&amp;subd=ketuakelas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ketuakelas.wordpress.com/2011/11/18/november/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7324c34ce50593bbc5060b04aca5ac86?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ketuakelas</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
