Jungle (2017) dan Negeri Dongeng (2017)

Kurang Lebih Dua Film Besar

Selalu menarik melihat film dengan dasar petualangan. Setidaknya diri begitu menyanjung Into the Wild (2017) dan memasukkannya ke dalam 50 film terbaik sepanjang masa versi diri sendiri. Diri juga pernah menikmati Wild (2014) meski tak memasukkannya ke dalam daftar film yang direkomendasikan. Sekali tonton, setelah itu sudah. Tak berlanjut. Ada lagi The Lost City of Z, sebuah film yang didasarkan akan kisah nyata pencarian petualang Inggris dalam menemukan kota emas El Dorado di pedalaman Amazon. Untuk yang ini, bukunya membuat imajinasi lebih hidup dibandingkan filmnya.

Lalu tahun ini setidaknya ada dua film dengan dasar yang sama. Jungle dan Negeri Dongeng. Jungle dibintangi oleh Daniel Radcliffe—dia yang sangat melekat dengan karakter Harry Potter. Sedangkan Negeri Dongeng adalah karya kompilasi dari dokumentasi tim Aksa7art dalam pendakian 7 gunung di Indonesia.

Sesungguhnya tidak mudah menyajikan film dengan tipe petualangan begini karena Kesan hanya bisa didapat dari mengalami. Film seperti ini tak sekedar mengolah adegan ke adegan, tetapi bagaimana menghadirkan emosi yang sesungguhnya kepada para penonton. Dan siapapun tahu itu tidak mudah. Gambaran landscape adalah komponen lain yang berperan sangat besar dalam menghadirkan suasana. Pertarungan sutradara terletak pada kemampuan menciptakan dua puncak emosi berlawanan. Pertama, emosi putus asa yang hadir dari pertarungan dengan diri sendiri, dan yang kedua adalah kebahagiaan yang benar-benar bahagia saat berhasil mencapai tujuan, misalnya saat sampai puncak gunung.

Jungle tidak bermewah-mewah dalam menghadirkan landscape, barangkali karena keterbatasan setting tempat di hutan hujan tropis Bolivia. Tak banyak yang bisa dilihat luas, yang ada hanyalah tumbuhan hijau yang rapat. Tapi film ini mengolah luar biasa perihal pertarungan emosi para pemainnya. Pertanyaannya akan selalu sama. Mengapa kamu naik gunung? Mengapa kamu harus jauh masuk ke jantung hutan hanya untuk bertemu kaum Indian yang tak terjamah peradaban? Apa yang kamu cari? Hal setelah itu adalah Apakah ada orang yang bisa kamu ajak? Orang seperti apa yang bisa diajak menuju keadaan yang bisa jadi sangat tidak bersahabat itu? Atau pertanyaan-pertanyaan serius lain yang berputar-putar di sepanjang perjalanan.

Jungle mengolah itu dengan baik sekali. Kita dapat merasakan bagaimana keputusasaan ditinggal rombongan sendiran di tengah hutan tropis? Bagaimana cara bertahan hidup dari pembunuh-pembunuh kecil hujan tropis—sebagai informasi, pembunuh utama di hutan hujan tropis bukanlah binatang liar berukuran besar, tapi mereka yang kecil seperti serangga, reptil, kutu, lintah, dsb. Film ini berakhir luar biasa membahagiakan (maaf spoiler). Bantuan datang di saat harapan sudah benar-benar hampir habis. Sebuah kelegaan total! Betapa terasa batas antara hidup dan mati, dan saat yang menang adalah hidup, itulah sebenar-benarnya kebahagiaan hidup.

Negeri Dongeng mampu menggugah dengan landscape pegunungan Indonesia yang memang luar biasa indahnya. Meski terdapat inkonsistensi dalam kualitas dokumentasinya, di mana akhir film sepertinya menggunakan tenaga dan alat dokumentasi yang lebih baik, tapi itu tidak mengurangi daya pikat gambar-gambar yang dihadirkan, mulai dari Kerinci hingga Carstenz.

Tapi Negeri Dongeng tak sepenuhnya baik dalam hal emosi yang dihadirkan. Negeri Dongeng sudah punya kecendrungan untuk gagal sejak awal. Baru di pendakian pertama di Kerinci, kita disuguhi petuah-petuah bijak ala pendaki oleh sang Sutradara yang juga ikut di dalam filmnya. Siapapun tahu, tak ada orang yang senang digurui, dan film ini tampak benar berhasrat ingin menggurui kita perihal kesetiakawanan, gotong royong, pendewasaan diri dan hal-hal sejenisnya. Semacam keinginan menjadi pendaki sekaligus Mario Teguh. Sebenarnya ini tidak perlu. Penonton akan lebih mudah memahami dan menerima Pesan tanpa perlu disampaikan dengan gambling—setidaknya seperti di Jungle, terlebih Into the Wild.

Namun ada dua kejadian di Negeri Dongeng yang kaya gejolak emosi. Yang pertama adalah saat salah satu anggota tidak bisa melanjutkan pendakian karena sakit sehingga harus dirawat serius di rumah sakit. Satu lagi, yang membuat saya menangis, adalah ketika Darius mendapat pesan duka di tengah perjalanannya menuju puncak Binaiya di Ambon. Kondisi itu memaksa siapapun harus memilih, melanjutkan perjalanan atau kembali. Ada perang di dalam diri yang harus diselesaikan, ada keputusan yang harus diambil. Darius akhirnya memilih pulang, meninggalkan perjalanan membanggakan yang belum sepenuhnya dia tuntaskan. Gejolak emosinya begitu terasa, dan itu tentu saja kedua hal ini bukanlah bagian yang direncanakan dari Negeri Dongeng. Terakhir, film ini agaknya terlalu membanggakan kelompok sendiri—hal yang wajar, memang, tapi agaknya akan lebih berguna bila tak terlalu ditonjol-tonjolkan. Toh orang tetap akan tahu bahwa itu karya Aksa7art. Sayang sekali.

Advertisements

Tak Mahir Benar

Love of mine, some day you will gone.
But I’ll be close behind, I’ll follow you into the dark.

Tidak enak juga ternyata bila tak menginginkan apa-apa lagi. Serupa sudah sampai pada akhir perjalanan. Atau serupa belum sampai tapi tak ada lagi alasan untuk meneruskan sampai akhir. Ternyata diri tak membutuhkan sebanyak itu. Ternyata diri tak butuh sampai. Ternyata kita hanya butuh sedikit, kata seorang teman. Ternyata.

Alhasil, semua akan menjadi lebih mudah membosankan di matamu. Yang terlihat hanyalah manusia-manusia yang menggelikan, yang bodoh, yang mau menang sendiri, yang pintar membodohi, yang sibuk ke sana ke mari, yang tidak punya keinginan, ataupun yang tiap pagi saya lihat di cermin. Semua jadi menjemukan.

Mungkin karena ini juga saya agak menyesalkan punya relasi dalam dengan beberapa orang—entah sebagai anak, suami, ayah ataupun sekedar teman dekat beberapa orang. Saya tak terlalu mahir dan tertarik untuk sesuatu yang berlangsung selamanya. Terlebih saya bisa saja kehilangan alasan di tengah perjalanan. Saya tak hebat memenuhi harap dan ingin mereka. Tapi beberapa jalan sudah terlanjur ditempuh, alhasil… yang mungkin biarlah datang. Lepaskan… pasrah, kalau kata orang-orang. Terima. Sepenuhnya.

Hidup memang rumit. Ada yang mati-matian hidup, ada yang hidup mati-matian.

And well, I’ll follow you into the dark.

Catatan Kecil Selepas 32

Denganmu tenang,
karenamu tenang.
~ 4.20

Bandung sudah didatangi musim penghujan seperti rutinitas hendak menghibur mereka yang Oktoberian. Hidup masih terus berputar-putar di antara yang pernah ada dan yang semestinya. Tugas Besar semakin dekat tenggat waktunya, tapi diri tak jua melangkah. Kalaupun melangkah pelan sekali. Itu pun sesekali.

Senja makin besar. Sudah makin paham banyak hal, sudah mulai memperlihatkan ketertarikan ataupun tidak, sudah semakin mahir berinteraksi, sudah punya geng sendiri—dia lebih nyaman bermain dengan teman laki-laki, sudah makin mahir memuji dan mengejek ayahnya. Rumah tak pernah sepi. Rumah perlahan makin rapi. Bundanya memang mahir mengajarinya banyak hal kepatutan—tak seperti Ayahnya yang nyaman sendiri dengan takarannya sendiri.

Hidup sudah menyentuh angka 32. Akhirnya. Meski beberapa sahabat mempercayai angka 97. 3 tahun lagi mencapai 1 abad, Mas, kata salah seorang dari mereka. Saya pikir benar juga. Jadilah saya tertawa riang meniup dua lilin yang mereka dirikan pada telur dadar di atas seporsi nasi padang tambah ayam geprek. Betapa menyenangkan memiliki sahabat-sahabat yang menghangatkan hati. Mereka adalah cara Tuhan menghiburmu. Dan dalam segera daftar hal-hal yang perlu disyukuri bertambah.

Kemarin Bunda Senja juga membuat kejutan. Kamar dihias dengan balon hitam dan putih. Ada pulau kecil dengan kapal dan mercusuar yang diikatkan padanya. Ada juga tulisan Happy Birthday Ayah dalam ukuran besar. Saya pulang agak larut. Mereka sudah tidur dan pintu dibuka agak terlambat. Lalu saya mengalami lompatan emosi dalam waktu singkat. Roller coaster suasana hati. Betapa hangat memiliki kekasih yang menyenangkan. Dia adalah cara Tuhan menghiburmu. Tapi kalau ini sudah saya sadari sedari dulu. Sudah masuk dalam daftar hal-hal yang perlu disyukuri sejak beberapa tahun lalu. Tepatnya 5 tahun lalu.

Minumlah Rumput-rumput

Tulisan ini kecil saja, perihal tadi menyiram rumput di halaman depan dan belakang rumah.

Kemarau datang dalam aromanya yang khas. Debu mudah saja dibujuk angin, bisa datang dari jauh dan sampai juga ke penciuman. Suatu kali, saya berdiri menahan dingin di puncak bukit, dan yang tercium adalah aroma debu dari lembah-lembah jauh di bawah sana. Wanginya serupa aroma tanah sehabis hujan seperti yang biasa kalian kenal.

Barangkali benar bahwa mungkin tak lama lagi perang dapat dipicu oleh kebutuhan air. Baru sebentar saja air tak mengalir, komplek sudah ribut. Seorang tetangga bercerita betapa berapi-apinya dia menelpon jawatan kota penyalur air bersih. Saya sudah 10 hari tidak mandi, katanya. Kalau Bapak (jawatan kota-red) tidak juga mengalirkan air, saya kirim tisu-tisu bekas saya membersihkan kotoran ke Atasan Bapak, lanjutnya. Saya ikut cengengesan menghargai dia bercerita, bukan isinya.

Tapi benar. Besoknya petugas dari jawatan tadi datang ke rumahnya, memberi kabar bahwa besok air akan mengalir.

Dua hari yang lalu hujan mendatangi kota kecil ini. Hari ini air kembali mengalir. Biasanya begitu, sehari setelah hujan besar air bersih pasti kembali mengalir.

Waktunya berbahagia… bukan bak di kamar mandi yang pertama saya isi, tapi rumput-rumput dan bunga yang mesti saya ajak minum dan mandi.

Berbahagialah rumput… berbahagialah bunga. Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini–punya tetangga beberapa sudah mulai menyerah.

Tiga Cerita Kecil yang Pernah Hampir Sampai Pada Suatu Ketika

.1

Dari lantai ini, hanya terlihat pucuk pohon pinus, lampu kota yang mengedip di kejauhan, dan malam yang serupa selimut pekat. Angin menderu-deru, terkadang aku merasa mereka adalah hantu. Di bawah sana, di lorong jalan yang sepi dan panjang, berlarian kecil kenangan kita berdua. Ada sisa kegelisahan karena sidang kelulusanmu. Pagi itu kamu begitu tegang. Mawar yang aku bawa dari Ibukota memang berhasil membuatmu tersenyum, tapi hanya sejenak. Aku memelukmu sebelum kamu masuk ke ruangan yang menentukan. Kamu memelukku setelah keluar dari ruangan karena hasil sudah ditentukan. Aku memelukmu sekali. Kamu memelukku ribuan kali. Sehingga menjadi hangat siang itu. Meski hujan turun deras sekali di luar kamar. Tempat tidurmu tak pernah kurasa sehangat itu. Keringat membasahi tubuh, membuat kekal apa saja yang tak kuasa kita benarkan siang itu.

 

.2

Kita keluar minggu pagi. Jalanan yang biasanya sepi di samping kampusmu yang dirindangi pohon-pohon besar berubah menjadi pasar. Kita berjalan bergandengan di antara peralatan dapur, alas kaki, baju bayi, penjual tahu isi, gayung, arloji, dan banyak lagi barang lainnya. Kita berhenti sebentar di hadapan pedagang cermin. Tubuhmu merapat manja. Sebelah kakimu kau angkat, tubuh kita semakin dekat. Dan jadilah kita dua anakmuda yang sedang dimabuk cinta terekam dalam belasan cermin. Lucu juga, kataku. Aku ingin memindahkannya ke rumah kita nanti, katamu. Jangan, balasku. Aku tak terlalu mahir mengagumi diri. Kamu kemudian menjadi diam saja setelah itu. Aku bertemu Luna Nyawang, banci yang biasa aku tertawai di dekat kampusku. Sementara di atas sana, sesekali angin mengusik riang ranting-ranting pepohonan. Langit biru, serupa warna dominan di kamarmu.

 

.3

Hujan mengetuk kaca bus dari luar, dan kamu mengetuknya dari dalam dengan irama ritmis yang aku kenal. Kamu akan begitu bila kesal atau ada keinginanmu yang terpaksa tertunda atau berada terlalu jauh di luar jangkauanmu. Kamu perlu mengalihkan energimu yang meluap-luap. Aku duduk di sampingmu. Kita bersisian pada sebuah bus antar kota yang tidak penuh pada sebuah akhir pekan yang penuh hujan di sebuah musim yang seharusnya kemarau. Terkadang pada musim kering, ada saja angin yang membawa uap air menaiki punggung Manglayang, kemudian tak kuasa menahan beratnya sendiri, lalu meluruh menjadi hujan. Tanah menjadi basah. Begitu juga pepohonan, rumah penduduk, kebun, jalanan, atap-atap masjid, dan ternyata masuk menjadi rinai ke dalam anganku sendiri. Sering aku membayangkan bahwa kamu adalah badai dan aku hanyalah rinai. Kita bertemu pada suatu waktu, dan tentu saja aku akan langsung terhisap oleh dirimu. Oleh energimu. Oleh kekuatanmu. Oleh keangkuhanmu. Oleh ketidakberdayaanku untuk mengatakan tidak. Seperti juga sore ini, kamu mengetuk ritmis kaca jendela yang basah. Kita duduk bersisian dalam diam. Sesekali tetesan hujan menempel dan merambat cepat di kaca. Aku iri sekali. Tiba-tiba ingin menjadi air, yang sedari tadi meleleh dari mata menuju pipimu. []

Pelajaran Tambahan

Sekolah sudah sepi. Kegiatan belajar-menggurui sudah selesai sedari tadi. Rumah juga sepi. Keluarga sudah bubar sejak aku belum lahir. Begitu yang aku dengar.

Halaman sekolah tampak luas sekali di jam-jam seperti ini. Lapangan yang biasanya penuh dengan siswa sekarang tampak tak menarik bagi siapa saja. Keriuhan anak-anak muda sekolah menengah atas ternyata fana, mereka tak pernah melewati jam 2 siang. Pak satpam juga tak tahu sedang di mana. Lebih kurang sudah satu jam aku duduk di pos ini tanpa melihatnya mondar mandir memeriksa keamanan. Ruang-ruang kelas kosong di kejauhan tampak menyeramkan. Sering aku membayangkan hantu-hantu penjaga sekolah mulai keluar di kala siang. Tapi itu tak terlalu membuatku takut. Ternyata ada yang lebih menakutkan daripada mereka semua.

Bapak pergi sudah lama dan Ibu di luar negeri entah untuk apa. Aku tinggal bersama nenek yang hanya sesekali menganggapku sebagai cucunya. Semua orang memiliki 2 orang nenek. Aku juga. Aku mengetahui kejelekan mereka berdua. Masing-masing nenek senang memberitahuku mengenai kejelekan nenek yang lain. Juga tentang kejelekan pamanku, tanteku, dan tentu saja ayah ibuku. Aku hafal luar kepala kejelekan mereka semua.

Di salah satu sudut halaman dalam sekolah, tumbuh besar pohon meranti. Rindang, tempat berteduh siswa. Kelasku ada di sampingnya. Aku berada di tahun ke dua. Sudah pernah berganti ruang kelas sebanyak satu kali. Nanti akan berganti satu kali lagi saat naik ke tahun ke tiga. Tapi, aku sudah bisa menduga bahwa kelas ini yang akan selalu aku kenang. Mungkin hingga akhir hayatku. Setiap sudutnya adalah saksi-saksi bisu untuk sejarah yang membentukku.

Aku perekam yang ulung, banyak hal yang aku rekam begitu saja, sering tak sengaja, bahkan sejak umur di mana aku belum bisa memahami apa yang aku rekam. Ingatan-ingatan itu perlahan menghantui—karena hadir di saat yang tak selalu diharapkan—dan aku baru mengerti maksudnya seiring dengan bertambahnya usiaku. Aku mulai paham alasan Ayah meninggalkan Ibu, katanya Ibu kelewat pintar dan mandiri. Ego laki-lakinya terusik dan terus terusik sampai akhirnya rusak dan muak. Ayah hanya diploma 3, sedangkan ibu berkelana sejak dari IKIP di kota ini, kemudian lanjut sekolah ke Bandung, Belanda, dan Pennsylvania. Ibu kelewat mampu berdiri sendiri. Dia tampak tak perlu Ayah. Ayah tak suka merasa jadi angin lalu. Dia pergi saat aku belum bisa menghafal umurku sendiri.

Aku punya banyak teman di sekolah tetapi tak ada satupun yang pernah aku ajak ke rumah. Nenek tak menyukaiku membawa siapapun ke rumah. Kecuali Pak Guru. Pak Guru pernah beberapa kali datang berkunjung dan disambut baik oleh Nenek dan Tanteku.

Karena tak boleh membawa teman ke rumah, aku jarang di rumah. Aku yang masih menyukai bermain daripada hal lain tentu memilih bersama teman-temanku daripada hanya sendiri di rumah. Akhirnya aku semakin jarang dianggap cucu oleh kedua nenek yang tinggal satu rumah.

Ibuku memang pintar. Dan nenekku—Ibunya Ayah—lah yang menemukan potensi itu ketika Ibu masih menjadi mahasiswi Nenek. Nenek bahkan sangat baik dengan mengajak Ibu untuk tinggal bersama dengannya. Singkat cerita akhirnya Ayah dan Ibuku menikah. Tapi banyak yang tak suka. Ayah anak orang sangat kaya sedangkan Ibu orang biasa dari desa. Masalah membesar tanpa aku pernah paham—sampai saat ini—di mana letak permasalahannya. Ayah dan Ibu punya 2 orang anak dengan tujuan kehadiran yang jauh berbeda. Mbakku lahir lebih awal 2 tahun dariku. Berbeda dengan kelahiran Mbak yang selayaknya kehadiran anak pertama yang sangat dinanti, Nenek dari pihak Ibu bercerita bahwa aku lahir dengan satu tujuan khusus, mengembalikan kasih sayang antara Ayah dan Ibuku. Mbakku sering mengulangi pernyataan itu dengan begitu meyakinkan, “Kamu itu lahir coba-coba. Banyak orang menyarankan Ayah dan Ibu punya anak satu lagi, siapa tahu dia bawa berkah dan kembali menyatukan hubungan kalian yang sudah retak.”

Tapi ternyata aku gagal menjalankan misiku. Ayah dan Ibu terpisah semakin jauh.

Kalau ada yang bertanya apakah kehidupan tanpa dekat dengan ayah-ibu adalah sebuah neraka, aku bisa menjawab tidak. Itu biasa saja. Toh aku masih punya Nenek dan sesekali foto terbaru Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu lebih sering hadir di gambar. Aku tak pernah benar-benar kesepian, barangkali karena sudah terbiasa. Aku sudah—terpaksa—berlatih sejak sebelum masuk sekolah taman kanak-kanak. Dan hingga saat ini aku duduk di kelas dua sekolah menengah atas, semua sudah seperti bernafas saja. Ringan. Barangkali karena jarak dengan kedua orangtua jugalah aku memiliki sikap yang sedikit lain dari teman-teman sebayaku. Aku sedikit lebih keras kepada diriku sendiri. Uang dari Ibu setiap bulan seperti kontrak tanggungjawab yang mesti aku penuhi dengan sebaik mungkin. Aku belajar keras agar tetap memiliki nilai yang baik. Meski tak terlalu membanggakan, tetapi nilaiku tak dapat juga dianggap buruk. Perihal dia naik turun seperti catatan gempa agaknya masih dapat dipahami. Bukankah semua sisi hidup juga begitu? Terkadang naik, terkadang berguncang hebat, untuk kemudian reda lagi bersama waktu.

Aku memang sudah terbiasa menghadapi gempa. Beberapa darinya bisa aku ceritakan di sini. Gempa pertama hadir ketika Ayah pulang bersama seorang Perempuan. Aku menonton dari pintu kamar ketika mereka berdiskusi hebat di ruang tamu. Nenek sudah merah padam wajahnya. Ibu sudah seperti orang kesetanan berbicara dengan nada berteriak. Aku masih SMP waktu itu. Perempuan itu ternyata Ibu baruku. Tiba-tiba saja aku punya dua ibu, apakah rasanya seperti memiliki dua orang nenek? Dan jauh setelah siang itu baru aku tahu bahwa Ibu keduaku meminta hak untuk kepemilikan rumah. Kelak juga aku baru tahu bahwa Ibu marah besar karena dialah yang membayar cicilan rumah yang kami tempati bersama itu. Tak ada yang tahu perihal itu. Pernah aku bertanya, kenapa Ibu tak beritahu? Ibu menjawab untuk apa memberitahu hal seperti itu? Bukankah kita keluarga? Aku diam saja. Hendak membantah bahwa karena Ibu bersikap begitu jadi muncul masalah. Tuh, lihat saja, Calon Ibu Baruku tak tahu dan dia jadi berani minta rumah.

Gempa berikutnya hadir pada suatu malam saat aku pura-pura tidur. Aku berbaring di ruang tengah, di pangkuan Ibu, waktu yang mahal sekali karena Ibu jarang di rumah. Di ruangan itu juga ada Tanteku. Ibu bercerita sambal terus mengusap kepalaku, bahwa betapa dia sangat kasihan melihatku. Ditinggal sejak masih sangat kecil, kemudian sudah sebesar ini dan tetap tak mendapatkan kasih sayang yang selayaknya. Tidur palsuku berhasil malam itu. Banyak rahasia kudengar tanpa perlu bertanya satu pertanyaanpun.

Gempa-gempa berikutnya banyak terjadi di sekolah.

Aku punya banyak teman di sekolah seperti tadi sudah aku ceritakan. Tapi tak ada satupun yang aku anggap luar biasa. Tak ada yang mampu menjadi pengganti catatan harianku. Mereka semua mungkin cuma sebatas catatan belanjaan—perlu untuk satu waktu tertentu saja. Aku justru dapat lebih dekat dengan orang yang jauh lebih tua. Jangan-jangan ini karena aku sudah terbiasa dengan pembicaraan orang dewasa sejak kecil.

Aku punya dua buah buku catatan harian, pertama ada di kamarku, di bawah kasur, dan satu lagi hidup di sekolah, namanya Pak Guru.

Banyak guru di sekolah tapi tak ada yang seperti Pak Guru. Aku baru benar-benar mengenal dan dikenalnya saat aku mengajukan permohonan untuk belajar privat di luar jam sekolah. Aku merasa perlu bertanya langsung kepada sumber pengetahuan daripada ke teman-temanku. Terlebih beliau menyanggupi. Jangan senin sampai sabtu ya, saya sibuk sekali. Bagaimana kalau minggu saja di sekolah, tanyanya. Aku menyanggupi karena memang tak ada salahnya juga di hari minggu. Aku rela mengorbankan waktu bermainku agar Ibu tak risau karena nilai belajarku. Apalah arti tidak main di hari minggu bersama teman dibandingkan pengorbanan Ibuku?

Pak Guru ternyata suka memberikan pelajaran tambahan dan tambahan pelajaran. Di hari minggu pertama, dia memaksaku untuk berhubungan badan. Aku berteriak dan melawan tapi kalah kuat. Hantu-hantu penjaga sekolah tak keluar membantuku—karenanya aku tak pernah lagi menganggapnya menakutkan. Toh, di sini, di sekolah ini, setiap minggunya yang sepi, aku belajar tambahan bersama Setan. Tiap kali belajar tambahan Pak Guru selalu menambah pelajaran. Kalau aku tak mau, dia punya gambar dan rekaman kami, dia jadikan itu senjata. Setan ternyata masih butuh senjata tambahan.

Lalu, di hari-hari selain minggu, Pak Guru memberiku pil anti hamil.

Baik sekali, Setan ini.

Setahun Menyelundupkan Buku

1.tahun.bokabuo-3

Bokabuo kami ambil dari bahasa Islandia, yang berarti Toko Buku. Islandia terpilih karena budaya literasi yang tinggi di negeri ini. Setiap tukang taksi saja adalah penyair di tempat ini, begitu yang disampaikan Weiner dalam Geograpy of Bliss. Selain itu, tentu saja karena Islandia adalah satu dari beberapa tempat yang sangat ingin kami kunjungi. Islandia adalah surga bagi penikmat landscape, selain New Zealand dan mungkin Patagonia.

Harus diakui bahwa Bokabuo lahir karena perpaduan keprihatinan dan keinginan untuk berbagi. Kami prihatin harga buku semakin tinggi dan tampak akan terus seperti itu. Harapan itu muncul ketika toko-toko buku besar tampak mulai kewalahan dalam pengelolaan buku. Mudah saja melihat gelagat ini, mereka melego buku-buku mereka dengan harga yang tidak masuk akal murahnya. Mungkin jumlah buku yang terjual tidak secepat kemampuan mereka untuk terus mencetak buku, sehingga gudang-gudang buku mereka menjadi penuh. Saya ingin menertawai mereka sebetulnya, tapi ada baiknya saya mengambil peluang saja dari keadaan ini. Mereka, meski sudah merupakan gurita raksasa perbukuan di negara ini, tampak seolah-olah tak memahami buku. Melego The Little Prince karya Saints de Execupery dengan harga 10 ribu adalah penghinaan menurut saya.

Kami kemudian memilih buku-buku yang dilego murah tadi. Karena itulah katalog Bokabuo adalah katalog terpilih. Kami tidak menjual semua, karena kita semua tahu tak semua buku itu baik. Kami kemudian melakukan pengamatan sekilas tentang penjual-penjual buku online, di mana hingga saat itu kami adalah salah satu pelanggan setia. Ternyata mereka tetap menjual buku-buku bagus yang saya temui tadi dengan harga normal. Margin yang mereka dapat bisa mencapai 300%. Meskipun itu sah-sah saja dalam dunia dagang, tapi itu cukup membuat saya kesal. Saya tahu harga buku-buku ini!

Kekesalan tadi kami bungkus dengan hasrat berbagi. Barangkali lebih ‘fair’ bila kita berbagi untung saja. Margin kita bagi dua, setengah untuk kami, setengah untuk kamu. Itulah dasar pembuatan harga-harga buku di Bokabuo. Hingga saat ini. Bahkan untuk buku-buku yang mereka labeli langka. Buku, selangka apapun, tak lebih berarti dari teks yang ada di dalamnya. Karenanya, yang pokok adalah isinya dan bukan kelangkaannya. Mereka yang berbicara buku dari konteks kelangkaannya –biasanya mereka katakan untuk para kolektor-, kami anggap sudah berbicara dengan bahasa yang lain. Kami dengan mereka tak akan pernah nyambung bila berbicara.

Lalu, kami memikirkan perihal kesempatan. Manusia-manusia kota memang disuguhi dengan begitu banyak pilihan untuk mendapatkan buku murah. Lalu bagaimana nasib mereka yang jauh dari pusat perbukuan? Mereka tentu saja juga memiliki hak yang sama, semestinya. Inilah yang menyebabkan kami, terkadang, menganjurkan beberapa pelanggan yang kami tahu posisinya, untuk langsung saja membeli di tempat kami menemukan buku-buku murah tadi. Dengan maksud, biarlah stok buku murah yang ada di kami ini, dibeli oleh mereka dari tempat yang jauh pada suatu hari baik nanti. Kami pernah mengirimkan buku ke Solok, Sumatra Barat, dan yang paling jauh, minggu ini, ke Putussibau, Kalimantan Utara, tempat beberapa Pengajar Muda sedang mengabdikan hidupnya. Inilah salah satu tujuan pokok itu! Membuka akses untuk mereka yang jauh dari kemudahan pilihan.

Setelah satu tahun menyelundupkan buku, kami tahu usaha ini akan membawa kami ke tempat-tempat yang mungkin tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Nusantara seluas ini! Setiap anak muda di negeri ini rasanya perlu untuk mengenal Pram, Darwin, Tolstoy, Dostoevsky, Orwell, dan raksasa-raksasa literasi lainnya, yang di pundak merekalah kita melihat dunia ini lebih jauh, lebih luas, lebih baik, dan lebih membangkitkan harapan.

Dulu, saya ingin sekali mengantarkan buku-buku ini langsung ke tangan-tangan mungil mereka. Tapi, agaknya cara ini jauh lebih ringan. Bagi saya, ataupun bagi Senja dan Ibunya.

Nah, selamat ulang tahun pertama Bokabuo.
Nah, selamat ulang tahun kedua (lebih dua bulan) Utara Senja.
Nah, selamat ulang tahun ketiga pernikahan.

Sehat-sehat terus, semoga tetap sengit!