Tiga Cerita Kecil yang Pernah Hampir Sampai Pada Suatu Ketika

.1

Dari lantai ini, hanya terlihat pucuk pohon pinus, lampu kota yang mengedip di kejauhan, dan malam yang serupa selimut pekat. Angin menderu-deru, terkadang aku merasa mereka adalah hantu. Di bawah sana, di lorong jalan yang sepi dan panjang, berlarian kecil kenangan kita berdua. Ada sisa kegelisahan karena sidang kelulusanmu. Pagi itu kamu begitu tegang. Mawar yang aku bawa dari Ibukota memang berhasil membuatmu tersenyum, tapi hanya sejenak. Aku memelukmu sebelum kamu masuk ke ruangan yang menentukan. Kamu memelukku setelah keluar dari ruangan karena hasil sudah ditentukan. Aku memelukmu sekali. Kamu memelukku ribuan kali. Sehingga menjadi hangat siang itu. Meski hujan turun deras sekali di luar kamar. Tempat tidurmu tak pernah kurasa sehangat itu. Keringat membasahi tubuh, membuat kekal apa saja yang tak kuasa kita benarkan siang itu.

 

.2

Kita keluar minggu pagi. Jalanan yang biasanya sepi di samping kampusmu yang dirindangi pohon-pohon besar berubah menjadi pasar. Kita berjalan bergandengan di antara peralatan dapur, alas kaki, baju bayi, penjual tahu isi, gayung, arloji, dan banyak lagi barang lainnya. Kita berhenti sebentar di hadapan pedagang cermin. Tubuhmu merapat manja. Sebelah kakimu kau angkat, tubuh kita semakin dekat. Dan jadilah kita dua anakmuda yang sedang dimabuk cinta terekam dalam belasan cermin. Lucu juga, kataku. Aku ingin memindahkannya ke rumah kita nanti, katamu. Jangan, balasku. Aku tak terlalu mahir mengagumi diri. Kamu kemudian menjadi diam saja setelah itu. Aku bertemu Luna Nyawang, banci yang biasa aku tertawai di dekat kampusku. Sementara di atas sana, sesekali angin mengusik riang ranting-ranting pepohonan. Langit biru, serupa warna dominan di kamarmu.

 

.3

Hujan mengetuk kaca bus dari luar, dan kamu mengetuknya dari dalam dengan irama ritmis yang aku kenal. Kamu akan begitu bila kesal atau ada keinginanmu yang terpaksa tertunda atau berada terlalu jauh di luar jangkauanmu. Kamu perlu mengalihkan energimu yang meluap-luap. Aku duduk di sampingmu. Kita bersisian pada sebuah bus antar kota yang tidak penuh pada sebuah akhir pekan yang penuh hujan di sebuah musim yang seharusnya kemarau. Terkadang pada musim kering, ada saja angin yang membawa uap air menaiki punggung Manglayang, kemudian tak kuasa menahan beratnya sendiri, lalu meluruh menjadi hujan. Tanah menjadi basah. Begitu juga pepohonan, rumah penduduk, kebun, jalanan, atap-atap masjid, dan ternyata masuk menjadi rinai ke dalam anganku sendiri. Sering aku membayangkan bahwa kamu adalah badai dan aku hanyalah rinai. Kita bertemu pada suatu waktu, dan tentu saja aku akan langsung terhisap oleh dirimu. Oleh energimu. Oleh kekuatanmu. Oleh keangkuhanmu. Oleh ketidakberdayaanku untuk mengatakan tidak. Seperti juga sore ini, kamu mengetuk ritmis kaca jendela yang basah. Kita duduk bersisian dalam diam. Sesekali tetesan hujan menempel dan merambat cepat di kaca. Aku iri sekali. Tiba-tiba ingin menjadi air, yang sedari tadi meleleh dari mata menuju pipimu. []

Pelajaran Tambahan

Sekolah sudah sepi. Kegiatan belajar-menggurui sudah selesai sedari tadi. Rumah juga sepi. Keluarga sudah bubar sejak aku belum lahir. Begitu yang aku dengar.

Halaman sekolah tampak luas sekali di jam-jam seperti ini. Lapangan yang biasanya penuh dengan siswa sekarang tampak tak menarik bagi siapa saja. Keriuhan anak-anak muda sekolah menengah atas ternyata fana, mereka tak pernah melewati jam 2 siang. Pak satpam juga tak tahu sedang di mana. Lebih kurang sudah satu jam aku duduk di pos ini tanpa melihatnya mondar mandir memeriksa keamanan. Ruang-ruang kelas kosong di kejauhan tampak menyeramkan. Sering aku membayangkan hantu-hantu penjaga sekolah mulai keluar di kala siang. Tapi itu tak terlalu membuatku takut. Ternyata ada yang lebih menakutkan daripada mereka semua.

Bapak pergi sudah lama dan Ibu di luar negeri entah untuk apa. Aku tinggal bersama nenek yang hanya sesekali menganggapku sebagai cucunya. Semua orang memiliki 2 orang nenek. Aku juga. Aku mengetahui kejelekan mereka berdua. Masing-masing nenek senang memberitahuku mengenai kejelekan nenek yang lain. Juga tentang kejelekan pamanku, tanteku, dan tentu saja ayah ibuku. Aku hafal luar kepala kejelekan mereka semua.

Di salah satu sudut halaman dalam sekolah, tumbuh besar pohon meranti. Rindang, tempat berteduh siswa. Kelasku ada di sampingnya. Aku berada di tahun ke dua. Sudah pernah berganti ruang kelas sebanyak satu kali. Nanti akan berganti satu kali lagi saat naik ke tahun ke tiga. Tapi, aku sudah bisa menduga bahwa kelas ini yang akan selalu aku kenang. Mungkin hingga akhir hayatku. Setiap sudutnya adalah saksi-saksi bisu untuk sejarah yang membentukku.

Aku perekam yang ulung, banyak hal yang aku rekam begitu saja, sering tak sengaja, bahkan sejak umur di mana aku belum bisa memahami apa yang aku rekam. Ingatan-ingatan itu perlahan menghantui—karena hadir di saat yang tak selalu diharapkan—dan aku baru mengerti maksudnya seiring dengan bertambahnya usiaku. Aku mulai paham alasan Ayah meninggalkan Ibu, katanya Ibu kelewat pintar dan mandiri. Ego laki-lakinya terusik dan terus terusik sampai akhirnya rusak dan muak. Ayah hanya diploma 3, sedangkan ibu berkelana sejak dari IKIP di kota ini, kemudian lanjut sekolah ke Bandung, Belanda, dan Pennsylvania. Ibu kelewat mampu berdiri sendiri. Dia tampak tak perlu Ayah. Ayah tak suka merasa jadi angin lalu. Dia pergi saat aku belum bisa menghafal umurku sendiri.

Aku punya banyak teman di sekolah tetapi tak ada satupun yang pernah aku ajak ke rumah. Nenek tak menyukaiku membawa siapapun ke rumah. Kecuali Pak Guru. Pak Guru pernah beberapa kali datang berkunjung dan disambut baik oleh Nenek dan Tanteku.

Karena tak boleh membawa teman ke rumah, aku jarang di rumah. Aku yang masih menyukai bermain daripada hal lain tentu memilih bersama teman-temanku daripada hanya sendiri di rumah. Akhirnya aku semakin jarang dianggap cucu oleh kedua nenek yang tinggal satu rumah.

Ibuku memang pintar. Dan nenekku—Ibunya Ayah—lah yang menemukan potensi itu ketika Ibu masih menjadi mahasiswi Nenek. Nenek bahkan sangat baik dengan mengajak Ibu untuk tinggal bersama dengannya. Singkat cerita akhirnya Ayah dan Ibuku menikah. Tapi banyak yang tak suka. Ayah anak orang sangat kaya sedangkan Ibu orang biasa dari desa. Masalah membesar tanpa aku pernah paham—sampai saat ini—di mana letak permasalahannya. Ayah dan Ibu punya 2 orang anak dengan tujuan kehadiran yang jauh berbeda. Mbakku lahir lebih awal 2 tahun dariku. Berbeda dengan kelahiran Mbak yang selayaknya kehadiran anak pertama yang sangat dinanti, Nenek dari pihak Ibu bercerita bahwa aku lahir dengan satu tujuan khusus, mengembalikan kasih sayang antara Ayah dan Ibuku. Mbakku sering mengulangi pernyataan itu dengan begitu meyakinkan, “Kamu itu lahir coba-coba. Banyak orang menyarankan Ayah dan Ibu punya anak satu lagi, siapa tahu dia bawa berkah dan kembali menyatukan hubungan kalian yang sudah retak.”

Tapi ternyata aku gagal menjalankan misiku. Ayah dan Ibu terpisah semakin jauh.

Kalau ada yang bertanya apakah kehidupan tanpa dekat dengan ayah-ibu adalah sebuah neraka, aku bisa menjawab tidak. Itu biasa saja. Toh aku masih punya Nenek dan sesekali foto terbaru Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu lebih sering hadir di gambar. Aku tak pernah benar-benar kesepian, barangkali karena sudah terbiasa. Aku sudah—terpaksa—berlatih sejak sebelum masuk sekolah taman kanak-kanak. Dan hingga saat ini aku duduk di kelas dua sekolah menengah atas, semua sudah seperti bernafas saja. Ringan. Barangkali karena jarak dengan kedua orangtua jugalah aku memiliki sikap yang sedikit lain dari teman-teman sebayaku. Aku sedikit lebih keras kepada diriku sendiri. Uang dari Ibu setiap bulan seperti kontrak tanggungjawab yang mesti aku penuhi dengan sebaik mungkin. Aku belajar keras agar tetap memiliki nilai yang baik. Meski tak terlalu membanggakan, tetapi nilaiku tak dapat juga dianggap buruk. Perihal dia naik turun seperti catatan gempa agaknya masih dapat dipahami. Bukankah semua sisi hidup juga begitu? Terkadang naik, terkadang berguncang hebat, untuk kemudian reda lagi bersama waktu.

Aku memang sudah terbiasa menghadapi gempa. Beberapa darinya bisa aku ceritakan di sini. Gempa pertama hadir ketika Ayah pulang bersama seorang Perempuan. Aku menonton dari pintu kamar ketika mereka berdiskusi hebat di ruang tamu. Nenek sudah merah padam wajahnya. Ibu sudah seperti orang kesetanan berbicara dengan nada berteriak. Aku masih SMP waktu itu. Perempuan itu ternyata Ibu baruku. Tiba-tiba saja aku punya dua ibu, apakah rasanya seperti memiliki dua orang nenek? Dan jauh setelah siang itu baru aku tahu bahwa Ibu keduaku meminta hak untuk kepemilikan rumah. Kelak juga aku baru tahu bahwa Ibu marah besar karena dialah yang membayar cicilan rumah yang kami tempati bersama itu. Tak ada yang tahu perihal itu. Pernah aku bertanya, kenapa Ibu tak beritahu? Ibu menjawab untuk apa memberitahu hal seperti itu? Bukankah kita keluarga? Aku diam saja. Hendak membantah bahwa karena Ibu bersikap begitu jadi muncul masalah. Tuh, lihat saja, Calon Ibu Baruku tak tahu dan dia jadi berani minta rumah.

Gempa berikutnya hadir pada suatu malam saat aku pura-pura tidur. Aku berbaring di ruang tengah, di pangkuan Ibu, waktu yang mahal sekali karena Ibu jarang di rumah. Di ruangan itu juga ada Tanteku. Ibu bercerita sambal terus mengusap kepalaku, bahwa betapa dia sangat kasihan melihatku. Ditinggal sejak masih sangat kecil, kemudian sudah sebesar ini dan tetap tak mendapatkan kasih sayang yang selayaknya. Tidur palsuku berhasil malam itu. Banyak rahasia kudengar tanpa perlu bertanya satu pertanyaanpun.

Gempa-gempa berikutnya banyak terjadi di sekolah.

Aku punya banyak teman di sekolah seperti tadi sudah aku ceritakan. Tapi tak ada satupun yang aku anggap luar biasa. Tak ada yang mampu menjadi pengganti catatan harianku. Mereka semua mungkin cuma sebatas catatan belanjaan—perlu untuk satu waktu tertentu saja. Aku justru dapat lebih dekat dengan orang yang jauh lebih tua. Jangan-jangan ini karena aku sudah terbiasa dengan pembicaraan orang dewasa sejak kecil.

Aku punya dua buah buku catatan harian, pertama ada di kamarku, di bawah kasur, dan satu lagi hidup di sekolah, namanya Pak Guru.

Banyak guru di sekolah tapi tak ada yang seperti Pak Guru. Aku baru benar-benar mengenal dan dikenalnya saat aku mengajukan permohonan untuk belajar privat di luar jam sekolah. Aku merasa perlu bertanya langsung kepada sumber pengetahuan daripada ke teman-temanku. Terlebih beliau menyanggupi. Jangan senin sampai sabtu ya, saya sibuk sekali. Bagaimana kalau minggu saja di sekolah, tanyanya. Aku menyanggupi karena memang tak ada salahnya juga di hari minggu. Aku rela mengorbankan waktu bermainku agar Ibu tak risau karena nilai belajarku. Apalah arti tidak main di hari minggu bersama teman dibandingkan pengorbanan Ibuku?

Pak Guru ternyata suka memberikan pelajaran tambahan dan tambahan pelajaran. Di hari minggu pertama, dia memaksaku untuk berhubungan badan. Aku berteriak dan melawan tapi kalah kuat. Hantu-hantu penjaga sekolah tak keluar membantuku—karenanya aku tak pernah lagi menganggapnya menakutkan. Toh, di sini, di sekolah ini, setiap minggunya yang sepi, aku belajar tambahan bersama Setan. Tiap kali belajar tambahan Pak Guru selalu menambah pelajaran. Kalau aku tak mau, dia punya gambar dan rekaman kami, dia jadikan itu senjata. Setan ternyata masih butuh senjata tambahan.

Lalu, di hari-hari selain minggu, Pak Guru memberiku pil anti hamil.

Baik sekali, Setan ini.

Setahun Menyelundupkan Buku

1.tahun.bokabuo-3

Bokabuo kami ambil dari bahasa Islandia, yang berarti Toko Buku. Islandia terpilih karena budaya literasi yang tinggi di negeri ini. Setiap tukang taksi saja adalah penyair di tempat ini, begitu yang disampaikan Weiner dalam Geograpy of Bliss. Selain itu, tentu saja karena Islandia adalah satu dari beberapa tempat yang sangat ingin kami kunjungi. Islandia adalah surga bagi penikmat landscape, selain New Zealand dan mungkin Patagonia.

Harus diakui bahwa Bokabuo lahir karena perpaduan keprihatinan dan keinginan untuk berbagi. Kami prihatin harga buku semakin tinggi dan tampak akan terus seperti itu. Harapan itu muncul ketika toko-toko buku besar tampak mulai kewalahan dalam pengelolaan buku. Mudah saja melihat gelagat ini, mereka melego buku-buku mereka dengan harga yang tidak masuk akal murahnya. Mungkin jumlah buku yang terjual tidak secepat kemampuan mereka untuk terus mencetak buku, sehingga gudang-gudang buku mereka menjadi penuh. Saya ingin menertawai mereka sebetulnya, tapi ada baiknya saya mengambil peluang saja dari keadaan ini. Mereka, meski sudah merupakan gurita raksasa perbukuan di negara ini, tampak seolah-olah tak memahami buku. Melego The Little Prince karya Saints de Execupery dengan harga 10 ribu adalah penghinaan menurut saya.

Kami kemudian memilih buku-buku yang dilego murah tadi. Karena itulah katalog Bokabuo adalah katalog terpilih. Kami tidak menjual semua, karena kita semua tahu tak semua buku itu baik. Kami kemudian melakukan pengamatan sekilas tentang penjual-penjual buku online, di mana hingga saat itu kami adalah salah satu pelanggan setia. Ternyata mereka tetap menjual buku-buku bagus yang saya temui tadi dengan harga normal. Margin yang mereka dapat bisa mencapai 300%. Meskipun itu sah-sah saja dalam dunia dagang, tapi itu cukup membuat saya kesal. Saya tahu harga buku-buku ini!

Kekesalan tadi kami bungkus dengan hasrat berbagi. Barangkali lebih ‘fair’ bila kita berbagi untung saja. Margin kita bagi dua, setengah untuk kami, setengah untuk kamu. Itulah dasar pembuatan harga-harga buku di Bokabuo. Hingga saat ini. Bahkan untuk buku-buku yang mereka labeli langka. Buku, selangka apapun, tak lebih berarti dari teks yang ada di dalamnya. Karenanya, yang pokok adalah isinya dan bukan kelangkaannya. Mereka yang berbicara buku dari konteks kelangkaannya –biasanya mereka katakan untuk para kolektor-, kami anggap sudah berbicara dengan bahasa yang lain. Kami dengan mereka tak akan pernah nyambung bila berbicara.

Lalu, kami memikirkan perihal kesempatan. Manusia-manusia kota memang disuguhi dengan begitu banyak pilihan untuk mendapatkan buku murah. Lalu bagaimana nasib mereka yang jauh dari pusat perbukuan? Mereka tentu saja juga memiliki hak yang sama, semestinya. Inilah yang menyebabkan kami, terkadang, menganjurkan beberapa pelanggan yang kami tahu posisinya, untuk langsung saja membeli di tempat kami menemukan buku-buku murah tadi. Dengan maksud, biarlah stok buku murah yang ada di kami ini, dibeli oleh mereka dari tempat yang jauh pada suatu hari baik nanti. Kami pernah mengirimkan buku ke Solok, Sumatra Barat, dan yang paling jauh, minggu ini, ke Putussibau, Kalimantan Utara, tempat beberapa Pengajar Muda sedang mengabdikan hidupnya. Inilah salah satu tujuan pokok itu! Membuka akses untuk mereka yang jauh dari kemudahan pilihan.

Setelah satu tahun menyelundupkan buku, kami tahu usaha ini akan membawa kami ke tempat-tempat yang mungkin tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Nusantara seluas ini! Setiap anak muda di negeri ini rasanya perlu untuk mengenal Pram, Darwin, Tolstoy, Dostoevsky, Orwell, dan raksasa-raksasa literasi lainnya, yang di pundak merekalah kita melihat dunia ini lebih jauh, lebih luas, lebih baik, dan lebih membangkitkan harapan.

Dulu, saya ingin sekali mengantarkan buku-buku ini langsung ke tangan-tangan mungil mereka. Tapi, agaknya cara ini jauh lebih ringan. Bagi saya, ataupun bagi Senja dan Ibunya.

Nah, selamat ulang tahun pertama Bokabuo.
Nah, selamat ulang tahun kedua (lebih dua bulan) Utara Senja.
Nah, selamat ulang tahun ketiga pernikahan.

Sehat-sehat terus, semoga tetap sengit!

Tiga Bayangan

2 Februari 2015.

Setiap anak yang pergi, mendahului orangtuanya, akan meninggalkan rongga di hati orangtuanya.
Yang… barangkali, tak akan pernah bisa terobati.

Kabar duka itu datang bersama fajar di permulaan pekan. Kesadaranku belum terkumpul sempurna, dan berubah sebaliknya tak lama setelah itu. Anak keduamu, laki-laki, meninggal sebelum sempat bernafas di luar rahim istrimu, rahim ibunya.

Mataku segera panas –pertanda paling awal dari runtuhnya pertahananku. Aku ingat obrolan kita beberapa hari lalu. Ada aku, kamu, dan dua orang teman lain di meja itu. Sembari sarapan pagi kita membincangkan perihal kelahiran normal, cesar, induksi dan rumah sakit mana yang mesti kita percayai. Semua orang di meja itu pernah mengalami prosesi melahirkan, 3 oleh istrinya, dan satu orang lagi mengalaminya sendiri.

Tapi, ingatan itu tak membantu banyak selain mengingatkan bahwa aku harus segera bangkit dari tempat tidurku, sesegera mungkin ke kotak nafkah menemui yang lain, dan tak kalah segeranya untuk pergi menujumu.

Tak bisa kubayangkan dengan sempurna bagaimana kondisi hatimu saat mengirimkan pesan kabar itu untuk kami. Pesan itu masuk ke direktoriku pukul 05.46. Judulnya singkat saja; Berita.

Dear rekan-rekan,

Istri saya sudah melahirkan. Cesar. Dan sekarang dalam keadaan sehat dan di rawat di rumah sakit.

Namun, putra kami akan dimakamkan siang ini, setelah zuhur, di sekitar kediaman kami.

Mohon doanya.

 

Aku paling tak bisa menyembunyikan sesuatu. Aku langsung teringat anakku dan prosesi kelahirannya. Sungguh wajar. Tiap kita akan merujuk pada pengalaman yang pernah kita lalui. Karena itulah, sesaat setelah melihat wajah anakmu, mataku segera basah, dan tak lama setelahnya, aku keluar. Aku tak kuat. Aku memilih diam di luar, di garasi yang sudah kau penuhi dengan kursi untuk para pelayat.

Namun, aku terus di sekitarmu, dalam sepenglihatan mata, memastikan bahwa kau mendapatkan bantuan untuk apa saja yang kau perlukan. Setelah pelukan di awal kedatangan tadi, aku merasa perlu melakukan banyak hal lagi untuk meringankanmu.

Kakak (anak pertamamu) mana?

Oh… dia sedang bermain di rumah tetangga. Dia belum paham.

Tentu saja. Umurnya masih 3 tahunan, terlalu awal untuk mengenali duka yang mendalam. Ringan saja dia bertanya padamu, ketika bayi laki-lakimu sudah dalam dekapanmu untuk kemudian dibawa ke masjid untuk disholatkan.

Kakak, ayo antar adik, katamu.

Anak pertamamu memang baik hati. Dia menurut. Mataku semakin memanas.

Aku berjalan di belakangmu, sekedar berjaga-jaga dalam perjalanan dari rumah duka menuju masjid menuju pusara dan kembali ke rumah. Aku juga duduk di belakangmu sebelum zuhur, saat kau semakin kewalahan menjawab pertanyaan anak pertamamu.

Bibir dedek kenapa?

Iya, bibir mungil itu membiru. Kau hanya diam. Tak menjawab.

Pakai lipstick ya kayak Bunda?

Iya…

Kok gak pakai yang merah.

Kau terdiam lagi.

Adek mau dibawa ke mana?

Adek harus pulang.

Kemana?

Ke Allah.

Hmm… di sana ada ibu dan bapak juga?

Aku tak kuat terus mendengarnya. Aku mengalihkan pandanganku, tak lagi menatap wajah anak pertamamu yang begitu polos. Dia bercerita banyak tentang perut Bunda yang sudah kosong karena memang begitulah cerita yang dia terima untuk menamai duka ini.

Dan betapa mudahnya dia melambaikan tangan sepulang dari prosesi memakamkan itu.

Dadaaah Deeeek, katanya!

Lamunanmu jauh membayangkan suasana hati istrimu, yang harus beristirahat total di rumah sakit untuk penyembuhan yang baru saja dia lewati. Dia tak bisa hadir di antara kita dalam pemakaman itu. Aku ingat istriku. Aku ingat waktu di mana kami pulang dari rumah sakit setelah persalinan, di mobil hanya ada kami berdua, dia dengan tangkasnya berkata,

Aku seolah-olah tidak baru saja melahirkan. Pulang ke rumah tanpa membawa anak yang baru saja aku lahirkan. Rasanya aneh.

Dia menamainya aneh, sejatinya dia tak kuasa saja mewakilkan kondisi hati yang sedang remuk itu ke dalam bahasa lain yang lebih baik. Anak kami memang terpaksa harus ditinggal dulu di rumah sakit karena perawatan terkait kesehatannya.

Apalagi istrimu…

Lalu, setelah semua ini berlalu, Tuan dan Nyonya, sisanya adalah semua hal yang sudah lama kita ketahui. Siapapun akan kembali. Aku atau kamu hanyalah perihal waktu.

Selamat jalan Anak Sayang… selamat jalan Fatharizz Muhammad Fiza.

Sampai jumpa lagi di Pelukan Tuhan… >:D<

Tetaplah tabah, kawan! Siapapun tahu itu tak mudah.

PS: Depok panas siang itu. Barangkali tak kau sadari, hujan turun sepanjang kita sholat zuhur dan sholat jenazah. Hanya dalam selang sesingkat itu! Tak kah kau lihat langit juga ikut meringankamu?

PPS: Tiga Bayangan, judul tulisan ini merujuk kepada judul novel grafisnya Cyril Pedrosa. Tiga Bayangan tercipta dari kesedihannya yang mendalam ketika melihat anak sahabat-sahabat dekatnya meninggal dalam usia muda.

Bagaimana Hidup Membuatmu Paham

/1

Sejauh yang saya ingat, sejak kecil hingga sekarang, Ayah jarang sekali membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Berbeda dengan Ibu. Meski barang Ibu juga tak sebegitu banyaknya, namun bila dibandingkan dengan Ayah, jumlahnya tetap terpisah jauh.

Ayah baru benar-benar membeli barang ketika kami memaksanya. Itupun setelah Ayah menolak halus, “Tak usah. Untuk Ibu kalian saja. Atau buat kalian”.

Hingga saat ini saya berada di posisi yang sama. Saya baru benar-benar memahami apa yang terjadi. Ketika kamu menjadi seorang ayah, kamu mulai tak peduli dengan diri dan penampilanmu sendiri. Keluargamu adalah yang utama. Keluargamu adalah yang selalu didahulukan.

Ayah adalah dia yang selalu mengambil kaos kaki paling jelek di jemuran, meski tersedia banyak kaos kaki yang lebih baik di sana.

 

/2

Dua kutub pengalaman dalam waktu bersamaan.

Seorang sahabat perlahan menanjak umur kepala delapan menuju sembilan. Di waktu bersamaan, si anak mulai bertambah besar dengan kecepatan yang mengagumkan.

Yang satu mulai melupakan banyak hal, bahkan terkadang Beliau terbangun tengah malam, dan mengajak istrinya untuk pulang ke rumah –padahal mereka sedang tidur di rumah. Yang satu lagi mulai asik memberi nama-nama. Setelah semua dinamai sesuai dengan suara aslinya, kucing dinamai miaw, sapi dinamai mooo, harimau dinamai grrrr, sekarang mulai beralih dengan apa yang dikenali secara umum. Barangkali memang begitu proses bagi seorang anak dalam mengenali segala sesuatu di sekitarnya. Moo perlahan menjadi sapi, miaw adalah kucing, dan sebagainya. Beruntung buku adalah salah satu kosakatanya di awal pertumbuhan.

Yang satu mulai melemah gerak tubuhnya. Langkah memelan, berpegangan ke sana dan ke sini. Dia tetap dinilai kuat karena tak menggunakan tongkat. Sesekali wajah mulai tampak kelelahan. Yang satu lagi sedang lincah-lincahnya bergerak ke sana ke mari. Mulai menirukan gaya-gaya yang sulit, mengangkat kaki misalnya. Dia hampir berlari. Jatuh, bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi, sesekali menangis. Naik turun tangga adalah hobinya. Mengejar teman sebaya adalah kesukaannya, sembari berteriak ‘kakaaaaak… kakaaaaak’, atau ‘dedeeek… dedeeeek’.

Semua itu hadir dalam waktu bersamaan. Hidup seolah-olah sebuah bandul yang bergerak teratur dari sini, dan suatu saat nanti, akan sampai ke sana juga. Berlaku untuk siapa saja, dia, kamu, dan juga saya. Itu pasti.

/3

Popok bayi itu akan penuh, ada bau khas yang dikeluarkannya. Bau yang sangat membangkitkan kerinduan. Bermain dengannya adalah waktu terbaik. Meski seringkali kewalahan juga meladeni tenaganya yang melimpah.

Rumah memang perihal bau, kerinduan, waktu terbaik, dan kewalahan yang melimpah.

/4

Banyak hal bisa terjadi di antara jam lima dan tujuh.

Manusiawilah!

Pada suatu masa, setelah menghabisi klan Yoshioka, saat begitu banyak yang memburu nyawanya, Musashi sampai di sebuah desa yang kering. Wabah kelaparan sedang berdiam di tempat itu. Tanah tak bisa untuk ditanami. Satu-satunya lahan yang bisa dipakai untuk bercocok tanam hanyalah milik tetua desa. Orangnya keras kepala. Tak hendak berbagi.

Laki-laki itu sampai juga di kaki gunung. Pada sebuah petak tanah, sudah ada rumah di atasnya, dia mampir untuk sekedar bertanya. Apakah bisa tanah –dan rumah ini- dipakainya untuk beberapa saat ke depan. Puncak-puncak pegunungan berbaris seperti mengamati dari pekarangan belakang. Dua buah gunung bersandingan. Berbeda sifat. Satu dengan puncaknya yang datar seperti tempayan. Yang satu lagi berundak-undak seperti rangkaian punuk unta pada sebuah padang pasir yang hijau.

Lelaki itu mulai berhitung sekadarnya.

Musashi tak hendak berhenti. Dengan kepala yang lebih keras daripada si tetua desa, dia mengolah tanah untuk bisa ditanami. Semua orang hanya terdiam mengamati. Sia-sia si bodoh ini, kata mereka. Meski sudah lupa kapan terakhir kali merasakan kenyang, penduduk desa sudah patah semangat untuk mengolah tanahnya sendiri. Musashi memulai dengan parit. Perlahan hari demi hari mulai menampakkan bentuk. Musashi tak berhenti. Para penduduklah yang mulai berhenti. Dipasangnya ikat kepala –pertanda niat bekerjakeras ala Jepang, mereka ikut membantu Musashi tanpa komando dan permintaan. Tak ada yang mengalahkan ketulusan, sebuah semangat yang tulus adalah ajakan yang tak mungkin ditampik.

Lahan sudah selesai. Sebuah petak serupa sawah yang siap digenangi. Langit turun tangan membantu dengan mendatangkan hujan. Semua bersorak sorai. Tak lama setelah hujan reda, mereka melihat hasilnya. Air tak menggenang. Semua seolah hilang dihisap haus oleh tanah. Kecuali pada sudut kecil petakan sawah. Tuh kan, lihat! Tanah ini memang tanah kutukan! Tak mampu menyimpan air, terlebih ditanami. Semua penduduk kembali ke tabiat lamanya. Patah arang. Mereka kembali meratap, ke gubuk untuk berdiam diri dan putus asa. Musashi terus mengayunkan perkakasnya.

Laki-laki itu tahu bahwa dia tak tahu semuanya. Tak ada kitab yang mengabarkan perihal bagaimana cara terbaik mengangkat harkat manusia dari jalanan sedikit lebih tinggi. Yang dia tahu hanyalah rumah. Iya, rumah. Tempat di mana dia pernah merasakan hangat, entah karena pelukan ataupun pangkuan bundanya. Karena itu, di tanah di kaki gunung-gunung ini, dia mengikrarkan sebuah janji untuk dia tepati sendiri. Aku mesti mendirikan rumah di tempat ini. Rumah segala takdir.

Manusia memang makhluk status quo yang mencengangkan. Meski mereka senantiasa memproklamirkan perubahan untuk perbaikan, pada dasarnya mereka adalah makhluk yang paling enggan berubah. Gen dasarnya lah yang membentuk karakter itu. Ketika bisa bertahan –survival of the fittest, dia sudah merasa aman. Tak perlu ada lagi yang harus diperbaiki. Toh dengan begini saya sudah bisa bertahan.

Begitu juga dengan mereka yang sudah terbiasa hidup di jalanan.

Pada banyak kesempatan berbincang, frekuensi komunikasimu terbentur karena berada di ketinggian yang berbeda. Kamu, yang menurutmu terdidik, ternyata tak dipahami oleh pendengarmu. Ini menjadikan kepercayaan dirimu sedikit mundur, jadi apa yang selama ini aku pelajari?

Perlahan kamu mulai memahami, bahwa bahan ajar tertinggi dan sebenarnya, tidak terletak pada diktat-diktat penuh teori. Pembelajaran adalah teori yang dikekalkan oleh mengalami. Atau sebaliknya. Sejak itu, kamu mulai mengosongkan diri. Sekedar untuk memudahkan banyak ilmu untuk dapat kamu serap. Kamu menjadi guru dan murid pada saat yang bersamaan. Kamu bersekolah. Bila makna sejati dari sekolah adalah kehidupan itu sendiri.

Musashi mengikuti instingnya. Dibuatnya petak sawah baru dengan menggunakan acuan sesudut kecil tanah yang mampu menahan air hujan tadi. Dan jadilah satu petak sawah tambahan. Hujan kembali datang, kali ini dia belum menyelesaikan petak sawah yang baru tadi. Hujan kelewat deras. Terbentuk aliran air kecil, membesar menjadi selokan, dan menjelma menjadi sungai kecil. Semua humus terbawa habis. Musashi melihat ke langit. Langit, ringan sekali caramu bercanda. Besok aku akan membuat bendungan!

Di tanah itu, lelaki tadi mulai menggerakkan tangannya. Iya, dia sedang berdoa pada dasarnya. Sejak dia paham bahwa berdoa bermakna ‘gerakkan kakimu!’ Rumput-rumput liar mulai dicabut, pagar mulai didirikan, tanah mulai diratakan, satu dua tangga mulai dia persiapkan. Kelak, di tempat ini, akan berdiri sebuah rumah yang bisa didatangi siapa saja asalkan dia manusia. Tak usah hendak memindahkan surga ke sini, terlebih bila hanya lewat khotbahmu. Tak usah pula menjadikan tanah berpijak ini sebagai neraka, bila tak hendak berhadapan denganku. Si laki-laki tadi berbicara sendiri seperti mendeklamasikan puisi. Tapi dia paham apa yang hendak dia sampaikan.

Satu manusia dengan cinta yang keras kepala sudah cukup untuk memberi arti.

Penduduk desa kembali tersadarkan. Mereka tak lagi sekedar menonton Musashi membangun bendungan. Mereka bendung sungai-sungai, agar tak pergi begitu saja apa yang mereka butuhkan. Tanaman membutuhkan air. Manusia membutuhkan air. Hujan sekali lagi turun seperti hendak menguji perubahan, kali ini semua orang bersorak riang. Air bisa menggenang seperti yang mereka hendaki. Tanah basah. Hati basah. Masa depan siapa yang tahu? Sang tetua desa melihat seluruh prosesi ini dari kejauhan

Benih tak juga tumbuh. Musashi mulai bingung apalagi kemungkinan yang bisa dia perbesar. Dalam suntuknya, dia datangi tetua desa.

Apa yang salah? tanyanya.

Tanah itu tanah kutukan.

Sejak kapan ada tanah yang dikutuk?

Kau memang terlalu muda untuk memahami.

Sang tetua desa berjalan sembari memberi komando agar Musashi mengikutinya. Mereka berjalan menuju ladang tetua desa yang sudah siap tanam.

Tak kah bisa kau dengarkan?

Laki-laki itu mulai mencari apa yang tak ada dari upayanya selama ini? Dia kemudian menemukan bahwa kata kunci itu ada pada apa yang disandari. Kita bersandar pada yang mungkin, kita bersandar kepada angin*.

Upaya sebelumnya tak ubahnya sebuah karantina. Terpisah antara realita dan makna. Ini ibarat membicarakan pengentasan kemiskinan dengan rapat berjam-jam pada ruangan hotel berbintang lima. Tidak jujur sejak dalam pikiran. Ketika si komunitas tak lebih dari sekelompok manusia pintar bersekolah tinggi yang datang dengan segudang program kerja dan visi-misinya. Kental sekali siapa objek dan subjek di sana. Laki-laki itu pada mulanya adalah bagian dari keramaian tadi. Perlahan dia ke pinggir, dan semakin tahu bahwa ini tak bisa selamanya begini. Disiapkannya sendiri apa yang dia percayai. Satu dua manusia lain kemudian merapat karena teryakinkan dengan berbagai jalan. Pelan demi pekan jalan itu tak lagi sendiri, sudah ada beberapa kaki meski tetap masih terlalu sunyi. Tak mengapa. Cukup dia dikenal oleh mereka yang ingin mengenal.

Tak kah bisa kau mendengar suara riuh? tanya tetua desa.

Musashi terdiam. Memang tak ada suara apapun yang dia dengarkan. Tetua desa kemudian merunduk ke tanah, ditempelkannya telinganya pada tanah yang lembab. Matanya mulai berair. Sembari menangis dia mengatakan,

Mereka bernyanyi! Dengarlah! MEREKA BERNYANYI!

Musashi terpaku di tempatnya berdiri.

Tetua desa berlari riang di atas tanah yang hendak ditanaminya. Sembari berteriak girang, ‘Mereka ingin ditanami! Mereka ingin segera ditanami!’

Wajah Musashi masih seperti orang gila yang kesurupan. Bingung.

Tetua desa mengambil sebongkah tanah.

Cobalah.

…. (masih diam)

Cobalah!

Sang tetua desa mulai mencontohkan!

Rasakan betapa mereka ini sangat hidup! (air mengalir dari mata tetua desa, wajahnya begitu bahagia, remah-remah tanah masih menempel di bibirnya)

Mushashi kembali ke tanahnya sendiri.

Lelaki itu mulai mengolah tanah pekarangannya. Karena beberapa gunung yang mengeluarkan isi perutnya di masa lalu, tanah di sekitar tempat ini memiliki kesuburan yang tak tertandingi.

Disiapkannya sebaris, dua baris, sepuluh baris gundukan untuk tempat bercocok tanam. Dibuatkannya sepetak rumah kecil memanjang di samping rumah yang telah ada. Di sini, akan tinggal cacing-cacing harapan bangsa! katanya. Pada sisi lain dia biarkan ilalang dan dandelion tumbuh bebas. Di tengahnya dia titipkan satu pohon Ketapang Kencana.

Kita mesti terikat dengan tanah, kita mesti terikat kepada angin, hujan, musim, hutan, dan pegunungan. Bukan untuk apa-apa, hanya sekedar agar tetap jadi manusia.

Surga itu terlalu membosankan.

Laki-laki itu dan Musashi kembali ke tanah mereka masing-masing.

Berdirilah di mana kamu dibutuhkan, berguna letak. Berguna menjadi…

Bokabuo

Saya suka membaca. Istri saya juga. Kami punya perpustakaan kecil-menengah di rumah.

Kami suka berburu buku, kami mengumpulkan cukup banyak buku yang baik, dari sudut pandang kami. Satu untuk perpustakaan kami, yang kedua, ketiga dan seterusnya sengaja kami simpan.

Lalu datanglah hari ini.

Hari ulang tahun kedua pernikahan kami. Sebagai penanda, kami membuka satu toko buku kecil bernama Bokabuo. Saat ini hanya ada di dunia maya, dan semoga nanti segera menjelma menjadi puluhan toko buku kecil (dan perpustakaan) di pelosok nusantara.

Silahkan berkunjung bila hendak. Alamatnya di Instagram dengan akun Bokabuo dan di sini

https://www.facebook.com/pages/Bokabuo/352313874928482?ref=bookmarks

Mari, pembaca… Iyaa, kamu, pembaca!