Titik (1)
January 26th, 2012 § Leave a Comment
Kepada kamu
Pada satu titik di masa depan, aku akan mempercayakan sepenuhnya agendaku kepadamu, manisku. Di titik itu, aku adalah pesakitan, dan kamu adalah dokter yang sabar. Aku yang menjalani hari terlalu banyak jauh dari rumah, adalah aku yang butuh terapi untuk lebih banyak kembali kepada rumah. Disana ada kamu, sebagian besar mimpiku, dan nasib yang aku gantungkan dengan setia pada setiap berandanya. Aku juga sangat membutuhkan ketenangan itu, dan barangkali kamu sudah tahu –karena aku seringkali mengulangnya, bahwa kamu adalah ketenangan yang aku tuju. Harus ada proses panjang menemukan rumah, perjuangan menemukan arti pergi dan kembali, proses tanpa henti menuju laut tempat semua sungai bermuara. Titik ini hanyalah persimpangan, dimana takdirmu bertemu takdirku pada sebuah sore yang rapuh di atap sebuah pasar. Kita telah menjalani malu-malu kucing yang berwarna merah jambu, serangkaian kisah ‘stranger by the day’, dan beberapa kali upaya maju mundur untuk menentukan arah. Toh, akhirnya kita memutuskan untuk berjalan bersama, setelah Dago Pakar, Sukawana dan Jayagiri kita tapaki dengan perlahan –tapi pasti. Aku tahu kamulah si dia.
“Bapak kamu jaga warnet ya?”
“Loh… kok tahu?”
“Karena kau telah berhasil men-download hatiku… :”> “
Awalnya aku percaya bahwa hati dipilih bukan memilih. Tapi kemudian aku sadar, bahwa itu bukanlah kondisi terbaiknya. Dalam diamnya, hati memilih dan dipilih secara bersamaan. Dia bekerja dua arah, seperti mereka yang saling bertukar kabar dengan telepon.
Dan sadarkah kamu bahwa kita dianugrahi kesempatan itu?
Lalu perjalanan berikutnya adalah mencari jalan terbaik, berjuang mati-matian menjaga harmoni, maju selangkah demi selangkah. Gamang? Tentu saja! Ini adalah kali pertama! Oleh karena itu aku dan kamu semakin saling menguatkan. Kita adalah mereka yang ditempa oleh keadaan, bukan mereka yang dilenakan oleh begitu banyak kemudahan. Dalam gugupku, aku menemui kedua orang tuamu. Dalam gugupku, aku membicarakan rencanaku, rencanamu, rencana kita. Aku tahu aku beberapa kali kehilangan kalimat, mantra agar lisan dimudahkan tak selamanya bekerja dalam suasana hati yang bercampur aduk antara antusias, khawatir dan cinta. Tapi tenang saja, tak ada kalimat yang lebih ampuh daripada pembicaraan dari hati ke hati.
Dan kita tersenyum sesudahnya. Jalan masih panjang, tetapi keindahan ada di sepanjang jalan. Hidup tak berasosiasi dengan tujuan. Hidup adalah keindahan yang kau temukan lewat angin yang bertiup pelan ataupun tidak, lewat bunga yang mekar dari tempat paling jarang dilihat, atau senyum dari musuh yang paling kau benci.
Hidup adalah hidup.
Dan garis (hidup) bukankah rangkaian dari titik-titik (moment)?
Selamat malam, gadisku.
Yours
epiphany
January 20th, 2012 Comments Off
/1/
Gelisah-gelisah yang hadir dan hilang bersama pertemuan dan sebuah ritual datang-mampir-pergi, kenangan yang menggelayuti melebihi bayangan diri di musim panas, matahari yang terik dan angin yang kering, kemanakah bahagia akan mengarah?
Kepada Timur aku menujumu,
sesekali kepalaku mendongak ke Barat,
di Utara, cahaya kutub memanggil dengan ceria,
dan burung bermigrasi dari mana menuju ke Selatan.
Lalu dimana ketenangan akan berlabuh?
Sore itu aku katakan padamu bahwa ‘tenang’ lebih baik tak hadir di hari ini, seandainya dia ada saat ini, mungkin kau dan aku akan kehilangan harapan baik di masa depan, barangkali kita berdua tak lagi mengenal kata ‘perbaikan’.
PS: tak perlu merubah kiblat, Tuhan adalah segala arah.
/2/
Perjalanan yang dimulai dari debu menuju debu memang tak pantas untuk dipajang di rak buku. Dia tak selayaknya pengetahuan yang mesti dikekalkan, dia juga bukan cuplikan ayat yang berwujud daun, kulit pohon dan batu. Debu adalah debu. Perjalanan adalah dia yang hanya hadir saat ada titik bernama rumah dan ada proses yang bernama pulang. Disana ada ibu atau ibu yang hanya tinggal nama.
Tapi, bukankah Tuhan juga hadir di dalam Debu?
/3/
‘Silahkan ke Timur sedikit saja, disana ada Papuma. Temuilah seorang rahib yang menjagai sebuah kuil dengan warna dominan merah yang juga berada di depan sebuah gua pemujaan. Saat melihat wajahnya, kau akan tahu bahwa dialah yang ingin kau temui.’
Aku tahu perjalanan ini cukup menakutkan. Tapi takut adalah dinding yang harus dilompati demi sesuatu di baliknya; hari yang lebih ceria, diri yang lebih sederhana (atau tidak?). Ada manusia kerdil yang suka mencuri ikan hasil nelayan dan memunculkan suara riuh di malam hari. Siapa mereka tak pernah ada yang tahu pasti. Sekali waktu, dalam subuh yang penuh kabut (teluk ini jarang sekali didatangi kabut), ada beberapa bekas telapak kaki seukuran setengah meja yang seolah-olah muncul dari dalam lautan dan berjalan menuju daratan. Kaki siapa? Lalu kemana dia bersembunyi? Bukankah dengan ukuran kaki sebesar itu, bersembunyi bukanlah hal mudah di zaman ini? Tak pernah yang tahu pasti… dia datang dan barangkali bersembunyi di dalam kabut.
/4/
Ada yang membakar diri di depan simbol negara. Jangan pernah kau tanya untuk apa, sekalipun jangan.
Karena ketika negara bersekongkol dengan dia yang memiliki kekuasaan tanpa hati, dia yang berkoar membersihkan tapi kita tahu mereka hanyalah sekumpulan orang tak tahu diri yang tak punya malu (dan jangan-jangan kemaluan), ada yang mesti dibongkar, tanpa atau dengan harapan.
Tidak ada yang lebih buruk dari gabungan negara, korporat, preman dan aparat!!!*
hari penampakan Tuhan
January 17th, 2012 § 1 Comment
‘Kau boleh menempati kursi yang mana saja…’, kelas dongeng saban sabtu sore itu aku mulai. Belum banyak yang hadir disana, tetapi dia selalu ada, sejak pertama kali kelas ini dibuka. Karena itulah dia mendapatkan semacam privilage kecil, dia boleh menduduki bangku yang mana saja, sedangkan para peserta lain mesti duduk di tempat yang sudah ditentukan.
‘Sore ini kita kembali bertukar cerita. Saya akan memulainya, seperti biasa, setelah itu kalian bercerita apapun yang kalian inginkan…’
Atap pasar itu hening. Semua kursi sudah hampir terisi penuh.
Apakah kalian mengetahui tentang Hari Penampakan Tuhan?
Hari itu kemudian dikenal dengan istilah ‘Horo’. Beberapa abad lalu, dalam sebuah sore yang sepi, di pinggir sebuah sungai berair jernih yang bernama Tundzha yang selalu beku pada musim dingin, seorang laki-laki berjalan sendirian. Pakaiannya begitu sederhana, terlalu sederhana. Itu menjadikan dirinya aman dari para penyamun dan pencuri iseng. Tak ada yang bisa dicuri dari laki-laki seperti itu. Sebuah Rosario kecil senantiasa menggantung di pergelangan tangan kirinya. Dia seorang pendeta ortodoks.
Itu adalah hari ke 39 perjalanannya, dimulai ketika dia menanggalkan semua jubah duniawinya. Dia membakar apapun yang menurutnya berharga dan berpeluang menjadikannya lupa diri; disana ada beberapa lembar uang, sebuah surat berharga, foto-foto keluarga, beberapa barang hadiah, dan piagam penghargaan dari gereja. Hari itu adalah hari dimana salju pertama kali turun di musim dingin tahun itu. Perjalanan selama 39 hari ini lebih pantas dianggap sebagai sebuah perjalanan bertahan hidup daripada perjalanan mencari hidup. Beban bukan saja pada jalanan yang tertutup salju tebal, tetapi juga dengan hujan salju yang menumpuk di pundak. Belum lagi bila dihitung dengan gelisah yang terus dibawa di dalam hati.
Diam adalah prasyarat sempurna untuk mati. Apalagi di tempat seperti ini.
Tapi dia merasa harus berhenti di tempat itu. Ada firasat baik yang memintanya untuk diam sejenak. Dan dia menurutinya. Angin datang dalam irama yang bergemuruh, bisa saja merontokkan nyali para petualang yang setengah hati-sikap yang setengah-setengah seringkali lebih membahayakan. Dia tak bergeming. Di samping sungai itu dia menemukan sebongkah batu seukuran gajah berukuran dewasa, menyembul hitam dari lingkungan sekitarnya yang putih. Dia kemudian duduk diam diatasnya. Di sekitar, angin dan alur sungai saling berlomba mencuri perhatiannya…
Kelas itu senyap, semua mata tertuju padaku. Aku melihat mereka dalam tatapan yang menerawang, aku sebenarnya tidak sedang melihat mereka, pikiranku bertualang jauh ke hari dimana cerita itu dikisahkan untuk pertama kalinya.
Pendeta itu tidak pernah menyangka apa yang akan terjadi berikutnya. Ketika dia memejamkan mata, mengasah rasanya, merekam semua yang ditangkap oleh indranya, ada sesuatu yang perlahan hadir. Sekalipun tak pernah dia menyangka bahwa kisah Musa akan terulang sekali lagi di dunia ini, ketika Tuhan dengan ‘rendah hati’ turun ke bumi. Tuhan itu hangat. Dan kehangatan itulah yang perlahan muncul. Dia datang dari ketinggian yang absolut kemudian menyesap ke dalam hati yang paling dalam. Tubuhnya bergetar hebat, pepohonan riuh, sungai berhenti mengalir, dan saat dia membuka mata, semua menunduk dalam upayanya masing-masing. Dia menjadi takut, secepatnya dia kembali menutup matanya.
Kelas ikut menjadi riuh. ‘Darimana dia tahu bahwa yang datang adalah Tuhan?’, ‘Apa iya Tuhan itu hangat?’, ‘Bagaimana bentuk Tuhan?’. Mereka bertanya tanpa diminta, dan melontarkannya tanpa izin. Aku mendengarkan semuanya dengan baik. Tak satupun yang aku jawab detik itu, aku melanjutkan ceritaku.
Pada hati yang terjaga, kita akan dengan nyata bisa membedakan mana nafsu dan mana cinta, mana hasrat dan mana yang mimpi, mana teman dan mana musuh. Dan apakah terlalu susah untuk membedakan mana Tuhan dan mana Setan? Semua tidak memerlukan takaran yang harus dibakukan, satu-satunya alat penilai yang bisa dipergunakan adalah hatimu. Kamu, kita, adalah serpihan cahaya Tuhan. Dan ketika dia kembali bertemu dengan sang Sumber, dia tak perlu sebuah proses perkenalan lagi, karena mereka tak pernah saling meninggalkan, tak pernah saling melupakan. Yang kemudian hadir adalah sebuah reuni kecil-kecilan serupa sepasang kekasih yang kembali berpelukan setelah terpisah begitu lama. Apakah kamu kesulitan membedakan apakah itu kekasihmu atau kekasihmu yang palsu?
Semua diam.
Pendeta itu merasakan tarikan yang luar biasa. Dia melihat terang tanpa harus membuka matanya, jauh lebih silau daripada kondisi dimana kamu menantang matahari dengan mata tertutup. Dia tahu Dia ada di sana. Tapi bukankah Tuhan tak perlu hadir di sini? Dia merasa bersalah, dia yang mensyaratkan iman lewat sebuah perjumpaan akhirnya mengaku salah. Dia menunduk. Dalam. Dia menangis.
‘Tuhan, jangan datang di tempat ini… Tuhan, jangan datang hari ini…’
Ucapan itu diulang-ulangnya hingga serupa mantra yang dirapal berulang-ulang sehingga kehilangan aturan bahasa bakunya. Kalimat yang diucapkan berulang dan dalam irama cepat beraturan akan kehilangan nada aslinya. Yang hadir adalah kepastian dan sebuah kesepahaman. Dia menuju vortex. Dia menuju puncak segitiga. Dia menuju kosong. Dia menuju tak ada. Dia menuju Tuhan.
Ceritanya selesai! Aku membuka mataku, menatap mereka dengan lega. Di suatu sore, akhirnya cerita ini aku sampaikan.
‘Apakah ada yang ingin kalian tanyakan?’
‘Apakah ada orang lain di tempat itu? Lalu bagaimana kemudian orang tahu bahwa pendeta itu bertemu Tuhan, dan memperingatinya sebagai hari penampakan Tuhan? Bagaimana kelanjutan hidup si pendeta?’
‘Tidak ada orang di tempat itu. Hanya pendeta itu saja. Tentu saja cerita ini tidak masuk akal bagi kebanyakan manusia, tapi siapa yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada yang benar-benar mengetahui sebuah pohon yang tumbang di tengah malam di tengah hutan? Peristiwa ini mulai diperingati oleh mereka yang mempercayai selembar manuskrip tua berwujud kulit kayu. Di atasnya tertulis sebuah pesan singkat; ‘Tuhan, jangan datang di tempat ini… Tuhan, jangan datang hari ini…’ Manuskrip itu masih dapat kau temui bila kau mengunjungi sebuah kapel tua yang didirikan tidak jauh dari sungai itu. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana nasib si pendeta, apalagi sejak pengisi gereja yang ditinggalkan oleh si pendeta sibuk mencarinya. Barangkali ada sebuah jejak yang tertinggal, atau sebongkah tubuh yang mati tertimbun es, atau terbawa sungai menuju muara yang jauh. Pencarian dilakukan bertahun-tahun, dan tak menghasilkan apapun. Manuskrip itu menjadi bukti terakhir yang ditinggalkan si pendeta; orang suci yang pernah berdosa, orang berdosa yang tak berhenti memperbaiki diri.
‘Kesempatanku selesai. Sekarang giliran kalian. Apa yang ingin kalian kisahkan?’